APBN Hingga Mei 2026 Defisit 0,70 Persen PDB, Menkeu: Fiskal Tetap Sehat

APBN Hingga Mei 2026 Defisit 0,70 Persen PDB, Menkeu: Fiskal Tetap Sehat
Konferensi Pers APBN KiTA Edisi Juni 2026 yang memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 (Dok : Ist).

KabarIndonesia.id — Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 menunjukkan kondisi yang tetap terkendali di tengah dinamika ekonomi global yang masih berlangsung. Pemerintah mencatat defisit APBN sebesar 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), namun memastikan kondisi fiskal nasional tetap sehat dan berkelanjutan.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan berbagai indikator ekonomi menunjukkan tren perbaikan, baik dari sisi aktivitas ekonomi domestik maupun stabilitas eksternal.

Menurut Purbaya, tekanan global mulai mereda dan aktivitas ekonomi nasional terus menunjukkan penguatan. Salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali berada di zona ekspansi pada Mei 2026.

Penguatan ekonomi juga terlihat dari meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat. Indeks belanja masyarakat, penjualan kendaraan bermotor, hingga konsumsi semen tercatat mengalami pertumbuhan yang signifikan.

“Ini menunjukkan domestic demand yang kuat dan juga menggambarkan daya beli masyarakat yang masih kuat,” jelas Menkeu dalam Konferensi Pers APBN KiTA Edisi Juni 2026 yang memaparkan realisasi APBN hingga Mei 2026, Jumat (5/6/2026).

Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia terus berlanjut selama 72 bulan berturut-turut. Arus modal asing juga kembali masuk ke pasar domestik pada triwulan II 2026, mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Dari sisi stabilitas harga, inflasi hingga Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan (year-on-year), masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah bersama Bank Indonesia.

Kinerja pendapatan negara juga menunjukkan hasil positif. Hingga akhir Mei 2026, pendapatan negara mencapai Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan penerimaan perpajakan sebesar 22,1 persen dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang tumbuh 19,9 persen.

“Yang paling menarik adalah pendapatan pajak naik 22,1 persen. Jadi ada perbaikan yang signifikan di pajak dibandingkan dengan kondisi tahun lalu,” ujar Menkeu.

Sementara itu, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp1.365,4 triliun atau tumbuh 34,4 persen secara tahunan. Belanja tersebut difokuskan untuk mendukung berbagai program prioritas pemerintah, menjaga daya beli masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas layanan publik, serta mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan realisasi pendapatan dan belanja tersebut, APBN mencatat defisit sebesar 0,70 persen terhadap PDB. Angka ini masih jauh di bawah batas maksimal defisit yang diatur dalam undang-undang.

Di sisi lain, pemerintah juga mencatat surplus keseimbangan primer sebesar Rp58,6 triliun. Capaian ini dinilai menjadi indikator penting bahwa pengelolaan fiskal nasional semakin sehat dan berkesinambungan.

“Surplus keseimbangan primer sekarang Rp58,6 triliun, sudah positif lagi. Artinya anggaran kita sekarang lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya,” ungkap Menkeu Purbaya.

Pemerintah menegaskan akan terus menjaga APBN agar tetap menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

“Ke depan, pemerintah akan terus menjaga APBN tetap sehat, prudent, adaptif, dan kredibel guna memperkuat stabilitas, menjaga momentum pertumbuhan, serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan,” pungkas Menkeu Purbaya.