Tunda Serangan ke Iran, Trump Klaim AS Lakukan Negosiasi dengan Iran

Tunda Serangan ke Iran, Trump Klaim AS Melakukan Negosiasi dengan Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (Dok : Int).

KabarIndonesia.id — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim telah membuka jalur negosiasi dengan Iran di tengah memanasnya konflik Timur Tengah. Bahkan, Trump mengaku telah memerintahkan menunda serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.

Dalam pernyataannya melalui media sosial, Trump menyebut pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung “sangat baik” dan produktif dalam dua hari terakhir, dengan harapan mencapai “resolusi lengkap dan total” atas konflik yang telah berlangsung selama tiga pekan.

“Saya telah memberi tahu Pentagon untuk mengakhiri semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, dengan syarat tercapainya pertemuan yang sedang berlangsung,” ujar Trump, dikutip Selasa (24/3/2026).

Langkah tersebut mengejutkan publik internasional. Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran jika Teheran tidak membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran. Melalui Kementerian Luar Negeri, Iran menegaskan tidak ada pembicaraan resmi dengan Amerika Serikat.

Iran bahkan menilai pernyataan Trump sebagai upaya menekan harga energi global yang melonjak akibat konflik.

Ketegangan Masih Berlanjut

Di tengah klaim negosiasi, eskalasi konflik di kawasan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran dilaporkan masih melakukan lintas lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia.

Selain itu, Iran juga terus melancarkan serangan terhadap sasaran energi dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk fasilitas dan kedutaan, serta sasaran di Israel.

Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan berpotensi memicu krisis energi global yang lebih parah dibandingkan krisis minyak pada tahun 1970-an maupun dampak perang Rusia–Ukraina.

Harga Minyak Bergejolak

Ketegangan geopolitik ini sempat mendorong harga minyak dunia melonjak hingga di atas US$100 per barel. Namun, setelah pengumuman Trump terkait tertundanya serangan, harga minyak mengalami penurunan tajam.

Harga minyak mentah Brent Laut Utara, sebagai acuan internasional, diperkirakan lebih dari 14 persen menjadi US$96 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 14 persen ke level US$84,37 per barel.

Fluktuasi ini mencerminkan tingginya sensitivitas pasar global terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait stabilitas pasokan energi dunia.

Exit mobile version