Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Siswa SD di Ngada NTT Akhiri Hidupnya

Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Siswa SD di Ngada NTT Akhiri Hidupnya
Surat yang ditingalkan siswa SD sebelum bunuh diri (Dok : int).

KabarIndonesia.id — Dunia pendidikan Indonesia sedang berduka sedalam-dalamnya. Sebuah tragedi memilukan pecah di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar, YBR (10) ditemukan tak bernyawa di dahan pohon cengkeh milik neneknya pada Kamis, 29 Januari 2026.

Kepergian siswa kecil ini menjadi potret kelam betapa kemiskinan bisa menjadi beban yang terlalu berat untuk pundak seorang anak.

Ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri, diduga karena rasa putus asa, saat YRB meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10.000, namun ibunya menjawab bahwa mereka tak memiliki uang.

Kapolda NTT, Inspektur Jenderal Rudi Darmoko, mengungkapkan bahwa hasil penyelidikan sementara mengarah pada keputusasaan akibat himpitan ekonomi.

“Motif utama karena hal itu (ekonomi), namun masih didalami,” ujar Rudi dalam keterangannya, dikutip Kamis (5/2/2026).

Tamparan Keras bagi Negara

Tragedi ini memicu gelombang duka hingga ke tingkat pusat. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyebut peristiwa ini sebagai pengingat pahit bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.

“Terus terang saja, kita sangat prihatin dengan adanya kejadian yang menimpa adik kita, yang sudah barang tentu kita tidak menghendaki. Apakah sebagai sebuah tanggung jawab, kita sebagai pemerintah, sebagai bangsa, mari kita menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan pembelajaran yang sangat keras kepada kita, untuk ke depan memastikan hal-hal yang seperti ini tidak terjadi kembali,” kata Prasetyo saat, Kamis (5/2/2026).

Prasetyo menekankan bahwa pemerintah tengah berupaya mempercepat pengentasan kemiskinan agar masyarakat dapat “naik kelas” memiliki kemandirian ekonomi dan kehidupan yang layak.

Namun, ia mengingatkan bahwa bantuan materi saja tidak cukup. Perlu ada kepekaan sosial yang lebih tinggi di lingkungan sekitar.

“Kita harus mendorong kita semua untuk meningkatkan kepekaan, kepedulian sosial di antara kita semua,” tambahnya.

Fakta di Balik Bantuan Pemerintah

Ironisnya, YBR sebenarnya masuk dalam daftar penerima bantuan pendidikan pemerintah. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengonfirmasi bahwa siswa tersebut tercatat sebagai penerima Program Indonesia Pintar (PIP) dengan besaran Rp450 ribu per tahun.

“Sebagai bagian dari kebijakan afirmasi pendidikan, mendiang murid tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar,” jelas Atip dalam keterangan tertulisnya.

Meski bantuan telah disalurkan sesuai prosedur, Atip menggarisbawahi satu celah besar, perlindungan anak tidak boleh berhenti pada uang. Ia menegaskan bahwa pemenuhan hak anak dari keluarga rentan harus menyentuh sisi psikologis.

“Harus ada pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif,” ungkapnya.

Alarm Keras untuk Kabupaten Layak Anak

Senada dengan itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi momentum evaluasi total bagi setiap daerah dalam menerapkan sistem Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).

“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penguatan sistem perlindungan anak melalui implementasi kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) sangat diperlukan untuk memastikan setiap anak di Indonesia dapat mengikuti pendidikan dengan baik, bersekolah dengan aman dan nyaman,” tutur Arifah di Jakarta.

Duka di Ngada semakin terasa pedih karena minimnya fasilitas kesehatan mental. Tim SAPA 129 mencatat, pendampingan psikologis bagi keluarga belum bisa dilakukan secara maksimal lantaran ketiadaan psikolog klinis di wilayah tersebut.

Kemen PPPA pun mendesak Pemerintah Daerah Ngada untuk segera menyediakan tenaga profesional di RSUD maupun Puskesmas guna mencegah tragedi serupa terulang.

Surat yang Ditinggalkan Korban

YBR mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, inisial MGT (usia 47 tahun). Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:

“Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.

Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya karena ibunya, yang merupakan orangtua tunggal, bekerja sebagai petani dan kerja serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.

Kini, proses penyelidikan oleh kepolisian masih terus berjalan. Polisi telah menyita sejumlah barang bukti dan memeriksa saksi-saksi demi memberikan kejelasan atas perkara ini.

Namun bagi masyarakat, kepergian bocah kecil ini akan selalu menjadi pengingat, terkadang harga sebuah harapan hanya seharga sebuah pena, dan negara beserta lingkungan sosial harus hadir sebelum harapan itu benar-benar padam.