News  

Stok Beras Melimpah 3,53 Juta Ton, DPR Minta Pemerintah Siapkan Peta Jalan Ekspor

Stok Beras Melimpah 3,53 Juta Ton, DPR Minta Pemerintah Siapkan Peta Jalan Ekspor
Ilustrasi beras (dok : Int)l

KabarIndonesia.id — Stok beras nasional yang mencapai 3,53 juta ton hingga akhir Desember 2025 menjadi perhatian DPR RI. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman meminta pemerintah segera menetapkan peta jalan ekspor beras produksi petani dalam negeri agar surplus produksi tidak menimbulkan masalah baru di sektor pangan.

“Tantangan kita hari ini, menurunkan biaya produksi dan memperbaiki mutu sehingga kita bisa bersaing dengan negara produsen beras lainnya, dalam merebut potensi pasar global,” kata Alex melalui rilis, Senin (9/3/2026).

Menurut Alex, upaya menekan biaya produksi menjadi faktor penting agar beras Indonesia mampu bersaing di pasar internasional.

Ia mencontohkan inovasi metode pertanian yang dikembangkan oleh petani asal Sumatera Barat, Ir Djoni, yakni metode Sawah Pokok Murah.

Metode tersebut telah diuji coba di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Alex Menyebutkan hasil panen yang diperoleh melalui metode ini tidak kalah dengan metode konvensional, meskipun tidak melalui proses pengolahan tanah yang selama ini menjadi komponen biaya terbesar dalam cocok tanam.

Selain itu, metode Sawah Pokok Murah juga tidak memerlukan pemupukan kimia maupun penyemprotan pestisida dan fungisida.

Bahkan, kondisi cuaca kemarau dinilai tidak terlalu menjadi kendala sehingga potensi gagal panen akibat faktor cuaca dapat diminimalkan.

“Walaupun topografi daerahnya perbukitan sehingga tidak memiliki hamparan sawah yang luas, Sumatera Barat ini sudah mampu swasembada beras sejak lama,” kata Alex yang juga legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Dalam kegiatan bersama para Penyuluh Pertanian se-Sumatra Barat di Kota Padang, Sumatera Barat, pada 7 Maret 2026 yang juga dirangkaikan dengan agenda buka puasa Ramadhan 1447 H/2026 M itu, hadir perwakilan penyuluh dari berbagai daerah di Sumatera Barat.

Turut hadir pula Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Idha Widi Arsanti beserta jajaran.

Alex menilai penerapan metode Sawah Pokok Murah yang telah dilakukan secara masif di sejumlah daerah seperti Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, dan Dharmasraya mampu menekan biaya produksi secara signifikan dibandingkan metode konvensional yang selama ini digunakan petani.

“Dengan adanya inovasi Sawah Pokok Murah yang telah dilaksanakan secara massal di Kabupaten Agam, Pesisir Selatan dan Dharmasraya, biaya produksi sudah bisa dipastikan akan jauh berkurang jika dibandingkan dengan metode konvensional sebagaimana telah diterapkan petani selama ini,” imbuhnya.

Selain biaya produksi, Alex juga menyoroti kualitas beras nasional yang masih menghadapi tantangan, terutama terkait tingkat patahan atau pecah beras.

Menurutnya, permasalahan tersebut memerlukan campur tangan pemerintah melalui penelitian yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perguruan tinggi.

“Kondisi saat ini, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), mengandung patahan (pecahan) atau menir (pecahan kecil) berada di angka 25-40 persen. Sementara, beras dari negara-negara produsen beras lainnya di Asia Tenggara, kadar patahnya telah berada di angka 5 persen,” katanya.

Ia menilai kualitas beras menjadi faktor penting dalam menembus pasar global. Tanpa perbaikan kualitas, peluang ekspor beras Indonesia akan sulit bersaing dengan negara produsen lain di kawasan tersebut.

“Jika kondisi ini tidak segera diatasi, pasar beras global akan sangat sulit ditembus,” sambung Ketua Panja Penyerapan Gabah dan Jagung Komisi IV DPR RI tersebut.

Alex juga mengingatkan bahwa surplus produksi beras harus diimbangi dengan strategi distribusi dan pasar yang jelas. Jika tidak, program swasembada pangan yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto berpotensi menghadapi tantangan serius.

“Saat ini, bapak presiden telah mencanangkan peningkatan produksi, baik itu melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Sementara, daya serap dalam negeri, tidak bertambah signifikan. Mau diapakan stok melimpah itu di kemudian hari. Ini tantangan yang harus segera dijawab,” tegas Alex.

Exit mobile version