Realisasi Pembiayaan APBN 2026 Tembus Rp164,2 Triliun hingga Februari

Realisasi Pembiayaan APBN 2026 Tembus Rp164,2 Triliun hingga Februari
Kantor Kementerian Keuangan (Dok : Ist).

KabarIndonesia.id — Di tengah tekanan pasar keuangan global yang masih diliputi, realisasi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 hingga akhir Februari tercatat mencapai Rp164,2 triliun.

Pemerintah menegaskan capaian ini masih berada dalam batas yang terkendali, sekaligus menunjukkan strategi pembiayaan negara tetap berjalan antisipatif di tengah dinamika ekonomi dunia.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

“Strategi pembiayaan dilakukan secara antisipatif, yaitu untuk memastikan ketersediaan kas tetap memadai, sekaligus menjaga pembiayaan untuk merespons dinamika pasar yang sedang terjadi,” ungkap Wamenkeu Juda.

Hingga tanggal 28 Februari 2026, realisasi anggaran pembiayaan tercatat sebesar Rp164,2 triliun atau sekitar 23,5 persen dari target yang telah ditetapkan dalam APBN.

Jumlah itu terdiri dari pembiayaan utang sebesar Rp185,3 triliun dan pembiayaan non-utang negatif Rp21,1 triliun.

Pemerintah menyebut sebagian besar pembiayaan utang masih ditopang pembiayaan dari pasar Surat Berharga Negara (SBN), dengan minat investor yang dinilai tetap kuat.

Hal itu tercermin dari bid to cover ratio untuk Surat Utang Negara (SUN) yang tetap berada di atas dua kali. Sementara untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), rasio tersebut tercatat mencapai 3,1 kali.

Capaian itu juga dinilai lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut Juda, kondisi ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih cukup terjaga.

“Ini juga menunjukkan bahwa minat dan kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian kita masih terjaga di tengah dinamika pasar keuangan global yang sangat penuh dengan masyarakat,” jelas Wamenkeu Juda.

Tak hanya investor domestik, minat investor asing terhadap SBN juga disebut tetap terjaga. Bid to cover ratio investor asing untuk SUN tercatat sebesar 2,4 kali, sedangkan untuk SBSN mencapai 2,8 kali. Angka tersebut disebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu.

Selain itu, pemerintah juga melakukan publikasi SBN di pasar global pada bulan Februari lalu melalui obligasi dalam dua mata uang, yakni renminbi (CNH) dan euro.

Meski demikian, perkembangan pasar SBN masih mempengaruhi volatilitas global. Secara year-to-date, imbal hasil SBN tercatat meningkat sekitar 55 basis poin, yang turut mendorong pelebaran spread yield SBN terhadap US Treasury.

Per 6 Maret 2026, spread SBN tenor 10 tahun terhadap US Treasury tercatat sekitar 243 basis poin, sebagai bagian dari penyesuaian terhadap kondisi pasar global.

“Posisi penyebaran Indonesia masih berada pada level yang kompetitif. Pemerintah bersama BI, OJK, dan pihak terkait akan terus memantau perkembangan tersebut untuk memastikan stabilitas pasar keuangan domestik,” pungkas Wamenkeu Juda.

Di tengah memastikan gejolak eksternal, pemerintah pengelolaan pembiayaan APBN tetap dijalankan secara hati-hati agar kebutuhan kas negara terpenuhi, sekaligus menjaga respons ruang terhadap tekanan pasar keuangan global.

Exit mobile version