KabarIndonesia.id — Aliansi Jurnalis Independen Jakarta kembali menggelar Pesta Media sebagai ruang kolaborasi lintas sektor yang mengangkat isu kebebasan pers dan krisis lingkungan setelah vakum selama 14 tahun. Kegiatan ini berlangsung di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 11–12 April 2026.
Kembalinya Pesta Media menjadi momentum penting bagi ekosistem jurnalisme di Indonesia, yang saat ini menghadapi tantangan serius, mulai dari meningkatnya tekanan terhadap kebebasan pers hingga ancaman krisis iklim yang semakin nyata.
Mengusung tema “Facing for Future, Collaboration for Our Nature” ajang ini mempertemukan jurnalis, sejarawan, pegiat lingkungan, komunitas, hingga masyarakat umum dalam ruang dialog yang inklusif.
Soroti Krisis Iklim dan Kebebasan Pers
Ketua AJI Jakarta, Irsyan Hasyim, mengatakan tema yang diangkat relevan dengan kondisi global dan nasional saat ini, di mana krisis iklim menjadi ancaman nyata yang dirasakan berbagai kelompok, termasuk jurnalis dan kelompok rentan.
“Mengapa kami memilih tema krisis iklim karena ancaman paling nyata hari ini adalah krisis iklim. Kita semua mulai menghadapinya dan terdampak langsung baik dari jurnalis, perempuan, dan kelompok rentan,” ujarnya saat memberi sambutan, Sabtu (11/4/2026).
Di sisi lain, Irsyan juga menyoroti kondisi kebebasan pers yang dinilai semakin memprihatinkan, dengan meningkatnya intimidasi terhadap jurnalis serta berbagai bentuk pemberitaan terhadap kerja-kerja jurnalistik.
“Situasi terbaru yang ditampilkan semakin kuat intimidasi yang dialami oleh jurnalis. Upaya mengurangi kebebasan pers juga terjadi dalam memuat konten media sosial dan tuntutan terhadap media,” tegasnya.
Ruang Kolaborasi Lintas Sektor
Pesta Media tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga wadah kolaborasi berbagai pihak untuk merumuskan solusi atas tantangan jurnalisme modern.
Beragam kegiatan digelar, mulai dari diskusi publik, lokakarya, pameran foto, pemutaran film, hingga pertunjukan seni. Topik yang diangkat mencakup konservasi satwa liar, perubahan iklim, perempuan adat, hingga dampak industri ekstraktif seperti batubara dan nikel.
Selain itu, lokakarya khusus bagi jurnalis juga diselenggarakan, antara lain terkait personal branding, jurnalisme solusi, dan jurnalisme konservasi untuk meningkatkan kapasitas di era digital.
Dorongan Perlindungan Jurnalis
Irsyan menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperkuat perlindungan terhadap jurnalisme, khususnya yang meliput isu lingkungan yang kerap berisiko tinggi.
“Kami berharap agenda ini menginspirasi munculnya gagasan untuk memperkuat perlindungan bagi jurnalis dan pekerja media,” katanya.
Libatkan Puluhan Lembaga dan Terbuka untuk Publik
Pesta Media tahun ini melibatkan 16 lembaga lingkungan, 26 media partner, serta enam universitas yang mengisi sekitar 30 booth di area acara.
Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti secara gratis, menjadikan ruang partisipatif bagi masyarakat untuk memahami pentingnya peran masyarakat dalam menjaga demokrasi sekaligus mendorong keinginan lingkungan.












