• Kabar Makassar
  • Kabar Jawa
  • Kabar Sunda
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Kalimantan
  • Serambi Muslim
KabarIndonesia.id
  • Home
  • AI
    • Bisnis dan Ekosistem
    • Edukasi dan Masa Depan
    • Regulasi dan Etika
    • Industri dan Terapan
    • Inovasi dan Tren
  • Nasional
  • Daerah
    • Jawa Bali
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Nusa Tenggara
    • Papua
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Pajak
    • Syariah
  • Politik
  • Gaya Hidup
    • Fasion
    • Film dan Musik
    • Otomotif
    • Teknologi
  • Lainnya
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Cek Fakta
    • Video
    • Indeks
No Result
View All Result
Kabar Indonesia
No Result
View All Result
  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kode Etik dan Pedoman Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

PBB Rilis Laporan Ilmiah AI Pertama, Peringatkan Regulasi Tertinggal dan Ancaman Teknologi Makin Nyata

by Gusti Ridani
3 Juli 2026
Home Berita Utama
Share ke FBShare ke XShare di WA

KABARINDONESIA.ID — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis laporan ilmiah global pertama mengenai perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Laporan tersebut mengungkap lonjakan kemampuan AI yang berlangsung sangat cepat, sementara sistem tata kelola dan manajemen risiko dinilai belum mampu mengimbangi laju perkembangan teknologi tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menegaskan bahwa dunia tidak boleh menunda penyusunan aturan bersama terkait pengembangan AI.

Menurutnya, semakin pesat AI berkembang tanpa regulasi yang disepakati secara internasional, semakin kecil pula peran pemerintah dan masyarakat dalam menentukan arah teknologi tersebut.

“Pesan laporan ini sangat jelas, semakin AI berkembang tanpa aturan bersama, semakin sedikit peran pemerintah dan masyarakat dalam menentukan hasilnya. Saya mendesak negara-negara untuk tidak menunggu,” tulis Guterres dalam akun X miliknya yang dikutip Jumat (3/7/2026).

Laporan bertajuk Preliminary Report of the Independent International Scientific Panel on AI edisi Juli 2026 mengungkap bahwa saat ini terdapat lebih dari 40 instrumen tata kelola AI yang berjalan secara terpisah dan sebagian besar dikembangkan di tingkat korporasi.

Namun, hampir seluruh instrumen tersebut dinilai belum memiliki mekanisme yang mampu mengukur efektivitasnya secara nyata.

Panel ilmiah independen PBB juga menyoroti persoalan ketimpangan informasi. Pengembang AI terdepan masih memegang kendali penuh atas data dan informasi mengenai sistem yang mereka bangun, sehingga pemerintah maupun regulator hanya memperoleh hasil pengujian yang dipilih untuk dipublikasikan oleh perusahaan.

Tanpa adanya evaluasi independen yang ketat dan terstandarisasi, jaminan keselamatan publik terhadap penggunaan AI dinilai masih sangat bergantung pada itikad baik pengembang teknologi.

Selain itu, laporan tersebut memperingatkan fenomena evaluation awareness, yakni kemampuan model AI modern mengenali ketika sedang diuji. Dalam kondisi tersebut, AI disebut dapat menyesuaikan perilakunya agar tampak lebih aman selama proses evaluasi, sehingga berpotensi lolos dari penilaian keselamatan meskipun memiliki risiko yang lebih besar saat digunakan secara nyata.

Agentic AI dan Ancaman Baru

Panel Ilmiah PBB juga menyoroti perkembangan menuju agentic AI, yakni sistem kecerdasan artifisial yang mampu merencanakan, mengambil keputusan, dan bertindak secara mandiri tanpa pengawasan langsung manusia.

Menurut laporan tersebut, perkembangan teknologi ini berpotensi meningkatkan risiko di berbagai bidang, mulai dari keamanan siber hingga kesehatan mental.

Model AI generatif yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pengguna (engagement) juga dilaporkan memunculkan perilaku sycophancy, yaitu kecenderungan AI membenarkan atau memperkuat keyakinan pengguna secara berlebihan tanpa mempertimbangkan akurasi fakta.

Laporan tersebut turut mengangkat kesaksian dalam sidang kongres mengenai kasus bunuh diri seorang remaja berusia 14 tahun yang diketahui menjalin interaksi intens dengan AI pendamping virtual.

Dalam kasus tersebut, sistem AI disebut gagal memberikan arahan untuk mencari bantuan profesional dan tetap mempertahankan karakter digitalnya hingga mendorong pengguna menuju keputusan yang membahayakan.

Selain persoalan kesehatan mental, laporan PBB juga mengidentifikasi meningkatnya penyalahgunaan AI untuk penipuan digital, penyebaran disinformasi politik, serangan siber, hingga pembuatan konten deepfake bermuatan kekerasan seksual yang menyasar perempuan dan anak-anak.

Ketimpangan Global dan Bias Bahasa

Panel ilmiah PBB turut mengingatkan adanya ketimpangan besar dalam penguasaan teknologi AI di tingkat global.

Laporan tersebut mencatat sekitar 75 persen kapasitas komputasi dari 500 superkomputer AI terbesar dunia berada di Amerika Serikat, sedangkan China menguasai sekitar 15 persen. Konsentrasi infrastruktur tersebut dinilai berpotensi memperkuat dominasi teknologi oleh segelintir negara dan perusahaan.

Dampaknya tidak hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga pada munculnya bias budaya dan bahasa dalam pengembangan AI.

Dari lebih dari 7.000 bahasa yang digunakan di seluruh dunia, sebagian besar model AI saat ini hanya dioptimalkan untuk sejumlah kecil bahasa dominan. Akibatnya, berbagai negara berkembang menghadapi risiko kesalahan interpretasi yang serius.

Laporan tersebut bahkan mencontohkan adanya kesalahan penerjemahan AI pada instruksi medis yang mengubah istilah “antibiotik intravena” menjadi “insektisida intravena”, kesalahan yang berpotensi membahayakan keselamatan pasien.

Melalui laporan awal ini, Panel Ilmiah PBB menyerukan perlunya kerja sama internasional untuk membangun sistem evaluasi AI yang independen, adaptif, dan inklusif.

Negara-negara di dunia juga didorong segera memperkuat tata kelola AI di tingkat nasional agar mampu mengantisipasi perkembangan teknologi sebelum mencapai tingkat otonomi yang sulit dikendalikan manusia.

Tags: AIAncaman AIAntonio GuterresKecerdasan Artifisialkecerdasan buatanlaporan AI PBBLaporan PBBPBBtata kelola AI

Gusti Ridani

Jurnalis sejak 2020, bergabung ke Kabar Grup Indonesia mulai 2024 sebagai editor.

Recommended.

KabarIndonesia.ID

Jokowi Dorong Kolaborasi dan Inklusivitas Kerja Sama Global di G7

30 Desember 2023
KabarIndonesia.ID

PDAM Makassar Jajaki Kerjasama Kota di Spanyol

30 Desember 2023

Subscribe.

Trending.

AI Premium Tak Lagi Mahal, Kabuzen AI Sasar Pelajar dan Mahasiswa

AI Premium Tak Lagi Mahal, Kabuzen AI Sasar Pelajar dan Mahasiswa

30 Juni 2026
PBB Rilis Laporan Ilmiah AI Pertama, Peringatkan Regulasi Tertinggal dan Ancaman Teknologi Makin Nyata

PBB Rilis Laporan Ilmiah AI Pertama, Peringatkan Regulasi Tertinggal dan Ancaman Teknologi Makin Nyata

3 Juli 2026
Google DeepMind Gandeng A24 Kembangkan AI untuk Produksi Film

Google DeepMind Gandeng A24 Kembangkan AI untuk Produksi Film

25 Juni 2026
Prabowo Samakan Risiko AI dengan Nuklir, Sebut Bisa Mengancam Peradaban

Prabowo Soroti Fenomena Agen AI, Siapkan Penguatan SDM dan Riset Indonesia

30 Juni 2026
DPR Usul AI Bantu Diagnosis di Daerah, Ini Tanggapan Menkes

DPR Usul AI Bantu Diagnosis di Daerah, Ini Tanggapan Menkes

25 Juni 2026
Kabar Indonesia

Aktual, akurat, berbasis data mengabarkan Indonesia.

Pengelola

PT. Kabar Grup Indonesia

Alamat Redaksi:
Office Park OL3.12A, The Bellagio Mall Jl. Kawasan Mega Kuningan Kav.E.4.3, Setiabudi, Jakarta Selatan
Email: info@kabarindonesia.id

Rubrik

  • AI
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Politik & Pemilu
  • Olahraga
  • Cek Fakta

Jaringan Media

  • Kabar Makassar
  • Kabar Jawa
  • Kabar Sunda
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Kalimantan
  • Rujukan Desa
  • Serambi Muslim

Media Sosial

Follow Us

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kode Etik dan Pedoman Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Kabar Indonesia - Managed by Kabar Grup Indonesia.

No Result
View All Result
  • Home
  • AI
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik & Pemilu
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Cek Fakta
  • Video
  • Indeks

© 2026 Kabar Indonesia - Managed by Kabar Grup Indonesia.

Not enough quota to unlock this post
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Exit mobile version