KabarIndonesia.id — Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menjalin kolaborasi strategis dengan Kedutaan Besar Australia untuk menekan angka stunting melalui Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana).
Mendukbangga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, dalam pertemuannya dengan Duta Besar Australia, Rod Brazier, di kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Rabu (15/10), menegaskan bahwa kerja sama ini tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga menyentuh dimensi kemanusiaan, pemberdayaan perempuan, dan ketahanan keluarga.
“Termasuk menyiapkan generasi masa depan yang lebih baik melalui peran siklus kehidupan, mulai dari calon pengantin, pasangan usia subur, ibu hamil, bayi, hingga lansia,” ujar Wihaji dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (16/10).
Salah satu topik utama dalam pertemuan tersebut adalah kerja sama penanganan stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang masih menjadi salah satu daerah dengan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia.
Duta Besar Australia Rod Brazier menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung program-program Kemendukbangga/BKKBN melalui inisiatif pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Ada beberapa kerja sama dengan Indonesia yang telah berjalan, dan yang mendukung program Kemendukbangga/BKKBN saat ini adalah program inklusi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujar Rod.
Sementara itu, Senior Program Manager Governance and Human Development Kedubes Australia, Anggina Hanum, menambahkan bahwa bentuk kolaborasi di NTT akan difokuskan pada pendekatan subnasional dengan melihat potensi daerah dan kesiapan kolaborasi di tingkat lokal.
Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting nasional pada tahun 2024 tercatat sebesar 19,8 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 18 persen pada tahun 2025. Untuk mencapai target itu, Kemendukbangga/BKKBN terus memperkuat sinergi lintas sektor, termasuk dengan mitra internasional, melalui penguatan program gizi, edukasi keluarga, dan intervensi langsung di wilayah dengan angka stunting yang masih tinggi.












