News  

Jakarta Punya Sesar Aktif? Ilmuwan Jepang Ini Beberkan Potensi Gempa Megathrust Indonesia

Jakarta Punya Sesar Aktif? Ilmuwan Jepang Ini Beberkan Potensi Megathrust Indonesia
Ilustrasi alat pendeteksi gempa bumi (Dok : Int).

KabarIndonesia.id — Risiko gempa megathrust menjadi perhatian komunitas ilmiah global, mulai dari pemahaman tentang pergerakan kerak bumi, tanda-tanda awal sebelum gempa besar, serta upaya mitigasi bencana. Pusat Riset Kebencanaan BRIN mengulas topik tersebut dalam Geohazard Webinar #5 dengan tema “Understanding Geohazard With GNSS” secara daring, Selasa (2/12/2025).

Dalam forum ini, para pakar membedah potensi megathrust dan mendinginkan kerak bumi, lengkap dengan teknologi pemantauan terbaru yang semakin presisi.

Prof. Kosuke Heki dari Hokkaido University, yang kini menjadi Visiting Researcher di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, memaparkan kajiannya bertajuk “Nankai Trough Earthquake in Southwest Japan: Apa yang bisa kita pelajari untuk mitigasi bencana di Indonesia?”

Ia menegaskan bahwa pola gempa besar di zona Nankai Trough bukan hanya ancaman bagi Jepang, tetapi juga pelajaran penting bagi Indonesia yang memiliki subduksi aktif dari Sumatera hingga Maluku.

“Kami memahami bahwa gempa bumi berkekuatan 8 terjadi dalam interval yang jauh lebih pendek sekitar 50 hingga 100 tahun. Jadi, ini adalah pemandangan klasik kami sebelum gempa bumi,” jelas Heki dalam keterangannya, dikutip Jumat (5/12/2025).

Ia menjelaskan bahwa potensi gempa besar tetap menjadi isu krusial meskipun sulit diprediksi waktunya. Pemantauan jangka panjang melalui Global Navigation Satellite System (GNSS) dan teknologi pengukuran dasar laut menjadi kunci untuk melihat akumulasi tegangan.

“Kemudian kita dapat melihat bahwa kopling antar-seismik yang saling mengunci terjadi hampir di sumbu palung. Jadi, bahkan di bagian batas besar yang sangat dangkal, terdapat regangan yang terakumulasi untuk gempa berikutnya,” ujarnya.

Heki juga menyoroti pentingnya slow slip event (SSE) atau preslip sebagai tanda awal gempa besar.

“Fenomena ini telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan bagian lain Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini mungkin memicu gempa palung Nankai berikutnya,” katanya.

Baginya, Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan jaringan GNSS untuk menjangkau jangka panjang di zona rawan seperti Mentawai, Jawa, Bali, Lombok, hingga Maluku.

“Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia,” ucap Heki.

Dengan menggabungkan data GNSS darat dan geodesi dasar laut, ia menyebut Indonesia dapat memuat peta akumulasi tegangan yang berpotensi memicu gempa besar di masa depan, sebuah fondasi penting bagi mitigasi modern.

Dari dalam negeri, penelitian mengenai pembekuan kerak di wilayah Jakarta dipaparkan Associate Professor Global Geophysics ITB, Endra Gunawan. Melalui metode analisis slip-rate GNSS, ia meneliti potensi seismogenik Sesar Jakarta yang selama ini jarang mendapat sorotan publik.

“Analisis kami berdasarkan pendekatan GPS, dan kami menemukan bahwa patahan di bagian selatan Jakarta ini menghasilkan laju pergeseran sekitar tiga milimeter per tahun dengan kedalaman ketebalan tujuh dan sudut kemiringan 63 ke selatan,” terangnya.

Temuan itu membuka peluang terjadinya bahaya gempa di kawasan perkotaan padat penduduk seperti Jakarta, sekaligus memperkuat pandangan Heki tentang pentingnya pemantauan berdasarkan ketinggian.

Sementara itu, ahli GNSS CORS Badan Informasi Geospasial (BIG), Muhammad Al Kautsar, tekanan perlunya integrasi data GNSS nasional untuk menyatukan geohazard secara berkelanjutan. Ia menjelaskan bagaimana jaringan CORS yang dikelola BIG mampu mendorong pergerakan mikro dan membayar harian.

“Dinamika pergerakan lempeng di Indonesia membawa dampak yang serius. Akibat dari pergerakan tersebut, Indonesia akan banyak mengalami gempa bumi dan aktivitas gunung berapi,” ujar Kautsar menutup pemaparannya.

Teknologi pemantauan bumi sudah semakin canggih, namun kesiapsiagaan tetap bergantung pada seberapa cepat kita membaca tanda-tandanya. Indonesia punya banyak alasan untuk memaksimalkan hal tersebut.

Exit mobile version