KabarIndonesia.id — Indonesia resmi membuka gerbang baru perdagangan global setelah penandatanganan Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) di St. Petersburg, Rusia. Kesepakatan bersejarah ini ditargetkan mampu mendorong nilai perdagangan Indonesia–Kazakhstan menembus USD 1,5 miliar hingga USD 2 miliar dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Hal tersebut disampaikan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Dr. M. Fadjroel Rachman, usai penandatanganan FTA Indonesia–EAEU yang digelar pada Minggu, 21 Desember 2025, bertepatan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) EAEU.
Dubes Fadjroel mendukung pernyataan Ketua Komisi Ekonomi Eurasia Bakytzhan Sagintayev yang menyatakan, Implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia dan Eurasian Economic Union (EAEU) ini akan menggandakan perdagangan Indonesia dengan negara-negara anggota EAEU.
Penandatanganan FTA tersebut dihadiri lengkap oleh lima pemimpin negara anggota EAEU, yakni Kazakhstan, Rusia, Armenia, Belarus, dan Kyrgystan, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin. Menteri Perdagangan Indonesia Budi Santoso, didampingi Dubes Fadjroel Rachman dan Dubes Jose Tavares.
Adapun penandatangan dari negara EAEU masing-masing dilakukan oleh Wakil Perdana Menteri Serik Zhumangarin (Kazakhstan), Alexei Overchuk (Rusia), Mher Grigoryan (Armenia), Natalia Petkevich (Belarus), dan Daniyar Armangeldiev (Kyrgystan), bersama Ketua Komisi Ekonomi Eurasia Bakytzhan Sagintayev.
Uni Ekonomi Eurasia sendiri merupakan blok ekonomi yang berdiri sejak 2014 dan aktif pada tahun 2015, dengan total populasi sekitar 180 juta jiwa dan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai USD 2,56 triliun. Sementara Indonesia memiliki populasi sekitar 285 juta jiwa dengan PDB sekitar USD 1,4 triliun.
“Kazakhstan sekarang tertinggi dalam PDB/kapita sekitar USD15.000 dan populasi 20 juta orang, merupakan penentu strategi untuk menyukseskan FTA Indonesia – EAEU ini,” ujar Dubes Fadjroel.
Ia menekankan keterlibatannya sejak awal perundingan dilandasi kesadaran akan pentingnya FTA ini bagi kepentingan nasional Indonesia.
“Jembatan emas yang menghubungkan Indonesia dan Eurasia. Pembukaan pasar Eurasia sangat menguntungkan Indonesia, sesuai Asta Cita Presiden Prabowo dan pembukaan pasar-pasar lebih luas yang super potensial untuk ketahanan nasional serta pembangunan ekonomi Pancasila sesuai Arah Menlu Sugiono,” tegasnya.
Menurutnya, kolaborasi lintas kementerian menjadi kunci rampungnya perjanjian ini.
“Dalam setahun terakhir semua pihak, Menteri Perdagangan Budi Santoso, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, bekerja keras dan berkolaborasi menuntaskan FTA Indonesia -EAEU ini. Mendag Budi Santoso juga menyampaikan salam hormat kepada para pemimpin EAEU,” lanjut Dubes Fadjroel.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa kesepakatan ini membuka peluang besar bagi ekspor dan investasi Indonesia.
“Penandatanganan ini membuka, memperluas, dan mendiversifikasi pasar ekspor baru Indonesia, serta sumber investasi baru, khususnya di sektor manufaktur dan pertanian,” ujarnya.
FTA Indonesia–EAEU mencakup 15 bab, termasuk akses pasar, fasilitas perdagangan, dan kerja sama ekonomi, serta memberikan tarif preferensi hingga 90,5 persen untuk produk Indonesia yang mewakili 95,1 persen total impor EAEU dari Indonesia.
“Produk Indonesia akan memperoleh akses pasar kompetitif dan lebih luas,” tegas Mendag Budi Santoso.
Sejumlah komoditas unggulan Indonesia diproyeksikan meningkat ekspornya, seperti minyak sawit dan turunannya, kakao, kopi, alas kaki, tekstil, produk perikanan, karet alam, furnitur, hingga elektronik. Sebaliknya, Indonesia juga membuka pasar bagi produk EAEU, termasuk pupuk, besi, dan minyak bumi.
Pemerintah Kazakhstan melalui Kementerian Perdagangan dan Integrasi menyambut positif FTA ini. Nilai perdagangan Indonesia–Kazakhstan tercatat pernah mencapai USD 691,3 juta pada tahun 2022 dan USD 398,4 juta pada tahun 2024.
“Kami yakin Kazakhstan – Indonesia dapat menggandakan nilai perdagangan dari tahun 2022, menuju target baru USD1,5 miliar hingga USD2 miliar dengan menandatangani FTA ini,” ujar Dubes Fadjroel.
Ia menambahkan, target tersebut akan diperkuat oleh kemajuan sektor logistik, pembukaan penerbangan langsung, bebas visa, perlindungan investasi, serta kerja sama energi dan mineral antara BUMN kedua negara.
Berdasarkan catatan KBRI Astana, ekspor utama Indonesia ke Kazakhstan meliputi mesin dan peralatan listrik, minyak nabati, tembakau, alas kaki, serta mesin mekanik. Sementara Kazakhstan mengekspor besi dan baja, ferroalloy, seng, aluminium, serta bahan kimia anorganik ke Indonesia.
KBRI Astana juga merekomendasikan percepatan penyusunan peta jalan strategi untuk menangkap peluang pasar EAEU, khususnya Kazakhstan, melalui penguatan logistik, harmonisasi tarif, dan efisiensi transportasi.
“Kerja gotong-royong kedua negara yang melibatkan lima elemen di atas, Insya Allah target bersama memperdalam integrasi ekonomi, memperluas jaringan perdagangan, mendorong konektivitas ekonomi global, pada akhirnya meningkatkan nilai perdagangan Kazakhstan – Indonesia mudah tercapai,” imbau Dubes Fadjroel.
Menutup pernyataannya, Dubes Fadjroel menyebut FTA ini sebagai momentum bersejarah bagi kedua negara.
“Penandatanganan bersejarah FTA Indonesia – EAEU ini merupakan hadiah tahun baru 2026 terbaik bagi bangsa Kazakhstan dan bangsa Indonesia. Sebuah gelombang baru globalisasi perdagangan, jembatan emas Indonesia dan Eurasia,” tutupnya.












