IHSG Terjun Bebas, DPR RI Bicara Blak-blakan Soal Free Float

IHSG Terjun Bebas, DPR RI Bicara Blak-blakan Soal Free Float
Ilustrasi saham (Dok : Int).

KabarIndonesia.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan tren pelemahan pada awal perdagangan pekan ini. Pada pembukaan perdagangan Senin (2/2/2026), IHSG dibuka melemah 0,28 persen ke level 8.306,16.

Tekanan penjualan terus berlanjut tak lama setelah pasar dibuka. IHSG tercatat anjlok hingga 1,76 persen dan menyentuh level 8.183.

Pelemahan ini memperpanjang tekanan yang terjadi sejak pekan lalu, ketika IHSG sempat terjun bebas hingga memicu trading halt sebanyak dua kali berturut-turut.

Gejolak pasar modal tersebut turut menjadi sorotan DPR RI. Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Fauzi Amro, menyampaikan pidatonya atas kondisi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengalami guncangan signifikan dalam dua hari terakhir.

“Sebagai mitra (Komisi XI), kami turut berduka atas dua hari terakhir karena bursa kita mengalami goncangan yang sangat luar biasa,” ujar Fauzi Amro saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X ke Bengkulu, Jumat (30/1/2026).

Sebagai mitra Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Komisi XI DPR RI menilai dinamika tersebut sebagai persoalan serius yang perlu dicermati bersama.

Perhatian itu semakin besar setelah munculnya kabar pengunduran diri pimpinan Bursa Efek Indonesia, Imam, yang disebut sebagai bentuk tanggung jawab moral atas situasi pasar.

Fauzi menjelaskan, Komisi XI sebelumnya telah memberikan pandangan dan mengambil sikap terkait polemik free float yang belakangan ramai diperbincangkan.

Ia menegaskan bahwa ketentuan mengenai free float sebenarnya telah diatur dengan jelas, namun penerapannya masih menimbulkan tanda tanya, khususnya di mata lembaga internasional seperti MSCI.

Menurutnya, kejujuran emiten menjadi kunci agar ketentuan free float benar-benar mencerminkan kepemilikan publik, bukan sekadar memenuhi syarat administratif.

“Yang menjadi persoalan saat ini, MSCI masih meragukan apakah free float itu benar-benar untuk publik atau justru masih dimiliki oleh pihak yang sama,” tegas politisi Fraksi Partai NasDem tersebut.

Dengan jumlah emiten yang hampir mencapai seribu perusahaan, Fauzi menilai persoalan free float tidak bisa dianggap enteng.

Pasalnya, isu ini berdampak langsung pada kepercayaan investor serta penilaian global terhadap pasar modal Indonesia.

Ia juga menilai rekomendasi diri pimpinan bursa sebagai bentuk tanggung jawab moral yang patut diapresiasi dan diharapkan dapat menjadi pembelajaran dalam tata kelola kelembagaan ke depan.

“Kalau seorang pemimpin gagal, tentu harus ada konsekuensinya. Mudah-mudahan pengganti ke depan bisa lebih baik,” ujarnya.

Meski demikian, Fauzi menyampaikan optimismenya bahwa kondisi pasar modal mulai menunjukkan perbaikan.

Ia menyebut aktivitas perdagangan BEI pada hari Jumat lalu sudah kembali berjalan lebih stabil dibandingkan dua hari sebelumnya.

Selain itu, pihaknya menyambut komitmen positif OJK untuk melakukan pembenahan tata kelola pasar modal, termasuk rencana negosiasi ulang dengan MSCI agar ketentuan free float sebesar 20 hingga 30 persen benar-benar mencerminkan kepemilikan publik yang sesungguhnya.

“Kami berharap pasar modal kita ke depan semakin sehat, kredibel, dan dipercaya oleh investor domestik maupun global,” pungkas Fauzi Amro.

Exit mobile version