KabarIndonesia.id — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen. Peningkatan tersebut memicu fenomena low base effect akibat kebijakan diskon tarif listrik yang diberlakukan pemerintah pada awal tahun 2025.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan inflasi tahunan Januari 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,75 terjadi karena posisi IHK Januari 2025 berada di bawah tren normal.
“Pada bulan Januari dan Februari tahun 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang tentunya ini akan menekan IHK Januari dan Februari tahun 2025,” kata Ateng Hartono dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, stimulus ekonomi berupa diskon tarif listrik tersebut tidak hanya menekan inflasi, tetapi juga memicu deflasi pada Januari dan Februari 2025.
BPS mencatat pada bulan Januari 2025 terjadi deflasi secara bulanan dan tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 0,76 persen, serta inflasi tahunan sebesar 0,76 persen yoy dengan IHK sebesar 105,99.
Sementara itu, pada Februari 2025 kembali terjadi deflasi, yakni sebesar 0,48 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), deflasi tahun kalender sebesar 1,24 persen ytd, serta deflasi tahunan sebesar 0,09 persen dengan IHK sebesar 105,48.
Ateng menyebut kondisi inflasi yang sangat rendah pada Januari 2025 membuat inflasi Januari 2026 terlihat melonjak, terutama pada kelompok pengeluaran Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga.
“Dengan demikian, ketika inflasi inflasi tahun ke tahunnya atau year-on-year-nya dilakukan pada periode yang sama di (Januari) tahun 2026, maka basis pembandingnya (di Januari 2025) relatif rendah,” ujarnya.
Ia memproyeksikan dampak low base effect tersebut masih akan terasa hingga Februari 2026. Hal itu sejalan dengan kondisi Februari 2025 yang juga mencatat deflasi baik secara bulanan, tahunan, maupun tahun kalender.
Meski demikian, Ateng menegaskan dampak tersebut bersifat sementara dan tidak akan mempengaruhi tren inflasi pada bulan-bulan berikutnya.
Ia optimistis inflasi tahunan akan kembali ke level normal pada Maret atau April 2026, selama tidak ada kebijakan pemerintah yang berdampak signifikan terhadap harga komoditas.
“Pada bulan Maret ataupun April (2026) jangan terkejut pada saat nanti inflasinya akan kembali ke normal karena sudah kembali lagi low base effect ke harga tataran normalnya,” katanya.












