News  

Data Terbaru Longsor Cisarua: 58 Korban Teridentifikasi, 17 Jenazah Masih Proses

Data Terbaru Longsor Cisarua: 58 Korban Teridentifikasi, 17 Jenazah Masih Proses
Pencarian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (Dok : Ist).

KabarIndonesia.id — Memasuki hari ketika terjadinya bencana longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat terus mengintensifkan proses identifikasi korban. Hingga Minggu malam (1/2/2026), puluhan jenazah telah berhasil dikenali dan diserahkan kepada pihak keluarga.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol. Hendra Rochmawan mengungkapkan, hingga pukul 19.30 WIB, Pos DVI telah menerima total 76 kantong jenazah dari lokasi bencana.

Dari jumlah tersebut, Tim DVI berhasil mengidentifikasi 58 korban. Dalam proses pemeriksaan, ditemukan dua kantong jenazah yang setelah dilakukan pencocokan data medis ternyata berasal dari satu individu yang sama.

“Seluruh korban yang sudah teridentifikasi telah kami serahkan kepada keluarga, termasuk satu kantong jenazah berisi kerangka. Sore tadi, kami juga baru saja menyerahkan jenazah almarhum Angga kepada pihak keluarga setelah proses identifikasi lanjutan selesai dilakukan,” ujar Hendra Rochmawan dalam keterangannya, dikutip Senin (2/2/2026).

Meski kemajuan menunjukkan perkembangan signifikan, pekerjaan tim DVI belum sepenuhnya rampung.

Saat ini, masih terdapat 17 jenazah yang belum teridentifikasi. Rinciannya, 11 jenazah berada di RS Sartika Asih, dua jenazah di RSUD Cibabat Cimahi, dan empat jenazah masih berada di Pos DVI lapangan.

Kepolisian juga mencatat adanya selisih antara jumlah laporan orang hilang dan jumlah kantong jenazah yang berhasil dievakuasi.

Hingga kini, laporan warga terkait kehilangan anggota keluarga mencapai 108 orang, sementara kantong jenazah yang diterima Pos DVI berjumlah 76 orang.

Hendra mengimbau masyarakat agar tidak hanya melapor di tingkat kelurahan, melainkan datang langsung ke Pos DVI untuk proses verifikasi lanjutan.

“Kami membutuhkan kerja sama keluarga korban untuk menyampaikan data pendukung seperti rekam medis, ciri-ciri khusus fisik, atau identitas lainnya. Pelaporan di Pos DVI sangat krusial agar kami bisa melakukan klarifikasi data antemortem secara akurat,” tegasnya.

Polda Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk terus bekerja secara profesional hingga seluruh korban yang dilaporkan hilang dapat ditemukan dan diidentifikasi, demi memberikan kepastian dan ketenangan bagi keluarga korban.

Sebelumnya, Kepala Basarnas Mohammad Syafii berharap seluruh korban longsor dapat ditemukan sebelum masa status darurat bencana berakhir.

Status darurat bencana longsor di Desa Pasirlangu ditetapkan oleh Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail sejak Sabtu (24/1/2026) dan berlaku selama 14 hari.

Syafii menyebutkan, pada hari ketujuh pencarian, tim SAR gabungan kembali menemukan lima kantong jenazah korban meninggal dunia.

Dengan demikian, total 60 kantong jenazah telah dievakuasi dan diserahkan kepada Tim DVI Polda Jabar untuk proses identifikasi.

Sementara itu, jumlah korban meninggal yang telah teridentifikasi saat itu mencapai 44 orang.

“Jumlah korban yang masih dicari 20 jiwa,” ucap Syafii di Desa Pasirlangu, Jumat (30/1/2026).

Operasi melibatkan pencarian lebih dari 3.000 personel tim SAR gabungan. Berbagai peralatan dikerahkan, mulai dari lima helikopter, 17 alat berat, hingga 22 unit drone. Operasi SAR dilakukan selama 24 jam, meskipun pencarian di lokasi longsor dihentikan sementara pada malam hari dan terfokus pada evaluasi serta koordinasi.

“Tantangannya ketebalan longsor di titik tertentu lebih dari 10 meter, curah hujan tinggi sehingga alat berat hanya bisa dioperasikan di tepian sektor,” kata Syafii.

Di sisi lain, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menerima hasil pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT) dari Badan Geologi Kementerian ESDM. Warga yang rumahnya berada di zona kuning telah diizinkan kembali ke tempat tinggalnya.

Adapun warga yang berada di zona rawan gerakan tanah akan direlokasi dan disiapkan perumahan sementara hingga perumahan tetap.

“Pemerintah daerah akan mencari lahan untuk relokasi berdasarkan hasil pemetaan dari Badan Geologi bahwa lahan tersebut aman untuk penempatan,” ujar Jeje.

Ia pun mengimbau masyarakat Kabupaten Bandung Barat untuk tetap waspada mengingat curah hujan yang masih tinggi. Jika muncul tanda-tanda bahaya, warga diminta segera mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman.

Exit mobile version