KabarIndonesia.id — Dampak banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh terus meluas. Kementerian Pertanian mencatat sedikitnya 40.000 hektare lahan pertanian terdampak bencana tersebut, dengan 4.500–5.000 hektare di antaranya mengalami puso atau gagal panen total.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengatakan kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah, terutama karena banyak petani yang kehilangan hasil panen tepat pada masa menjelang panen raya.
“Dari jumlah itu, yang mengalami puso sekitar 4.500–5.000 hektare. Kami hitung mana yang terdampak, khususnya puso yang paling prioritas karena petani sudah mau panen tetapi gagal panen. Itu harus kita tangani,” ujarnya, Rabu (10/12).
Ia menjelaskan pemerintah telah menyiapkan langkah tanggap darurat sekaligus program rehabilitasi untuk memastikan petani dapat kembali berproduksi dalam waktu sesingkat mungkin.
Berbagai bentuk bantuan disiapkan, mulai dari benih, alat mesin pertanian (alsintan), hingga dukungan pembiayaan.
“Benih, alat mesin pertanian, bahkan KUR kalau ada pinjaman, pemerintah cover itu semua. Termasuk untuk komoditas lain seperti jagung dan juga ternak,” tambah Sudaryono.
Selain upaya kementerian, Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan bahwa pemerintah pusat akan turun tangan memperbaiki seluruh sawah yang rusak akibat banjir dan longsor. Dalam pernyataannya, Prabowo meminta petani tetap tenang karena pemerintah siap memulihkan lahan pertanian yang terdampak.
“Sawah-sawah yang rusak akan direhabilitasi, dan sudah dilaporkan ke saya. Petani-petani tidak usah khawatir,” ujar Prabowo melalui siaran langsung Sekretariat Presiden.
Selain itu, Prabowo memastikan pemerintah akan menghapus utang Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi petani yang tidak lagi mampu berproduksi akibat bencana ini.
Kebijakan ini diambil untuk meringankan beban petani sekaligus mempercepat pemulihan sektor pertanian di wilayah terdampak.
Dengan kerusakan lahan mencapai puluhan ribu hektare, pemerintah menilai percepatan penanganan sangat mendesak untuk menjaga stabilitas produksi pangan, terutama di komoditas utama seperti padi dan jagung. Program rehabilitasi diproyeksikan berjalan paralel dengan penyaluran bantuan langsung di lapangan.












