News  

Ancaman Perang Timur Tengah Kian Nyata, Iran Tegaskan Siap Membalas

Iran Siapkan Serangan Balasan ke Pangkalan AS-Israel
Bendera Iran berkibar ditengah kobaran api (Dok : Int).

KabarIndonesia.id — Ketegangan di Timur Tengah kembali berada di titik didih. Ancaman konflik berskala regional menyusul peringatan keras Hizbullah dan sikap tegas Iran yang menyatakan siap membalas setiap bentuk agresi militer terhadap wilayahnya.

Situasi memanas setelah pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dianggap sebagai serangan langsung terhadap kelompoknya.

Pernyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan pecahnya perang terbuka yang melibatkan banyak aktor kawasan.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya sempat terlihat menarik diri dari opsi intervensi militer langsung.

Meski begitu, Trump tetap menegaskan bahwa langkah tersebut masih memiliki kemungkinan.

Dilansir dari AFP, armada laut Amerika Serikat yang tergabung dalam kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln, termasuk sejumlah kapal perusak berpeluru kendali, telah tiba di kawasan Timur Tengah dan berada dalam jarak serang terhadap Iran.

Kendati begitu, belum ada kepastian apakah potensi serangan lanjutan AS akan kembali memicu gelombang pemancaran besar-besaran di dalam negeri.

Sejumlah negara regional, termasuk Uni Emirat Arab, menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun perairannya digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Namun, keberadaan kapal induk AS di Laut Mediterania dinilai membuat Washington tidak sepenuhnya bergantung pada izin negara ketiga untuk melakukan serangan.

Militer AS juga mengumumkan akan mengadakan latihan di wilayah tersebut selama akhir pekan “untuk menunjukkan kemampuan mengerahkan, menyebarkan, dan mempertahankan kekuatan udara tempur”.

Serangan yang ditanyakan terjadi kali ini diperkirakan tidak lagi fokus pada program nuklir Iran, yang disebut telah terpukul dalam perang 12 hari pada Juni lalu, melainkan menyasar kebijakan politik negara tersebut.

Sejumlah pengamat menilai langkah ini bertujuan memicu kembali kemarahan masyarakat di tengah merosotnya kondisi ekonomi. Data resmi terbaru mencatat inflasi Iran dalam sebulan terakhir telah mencapai 60 persen.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menuding Amerika Serikat berusaha menghancurkan kohesi sosial Iran sebelum melancarkan serangan militer.

Ia menilai Presiden AS Donald Trump sengaja menggambarkan Iran berada dalam kondisi darurat. Menurut Larijani, upaya tersebut merupakan bentuk peperangan tersendiri.

“Para perusuh merupakan kelompok perkotaan dengan karakteristik mirip teroris. Ketika mereka menyerbu pusat militer dan polisi untuk mendapatkan senjata, itu menunjukkan mereka ingin memicu perang saudara. Kali ini, taktik AS adalah memecah kohesi publik terlebih dahulu, baru kemudian melakukan serangan militer,” kata Larijani, dilansir The Guardian.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah laporan yang menyebutkan utusan khusus AS Steve Witkoff tengah menghubungi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk membahas kemungkinan kesepakatan rahasia.

Witkoff mengetahui di balik peningkatan tuntutan, termasuk soal kembalinya inspeksi senjata PBB ke Iran, penarikan seluruh stok uranium yang diperkaya tinggi, serta dukungan program rudal Iran.

Baghaei menegaskan angkatan bersenjata Iran “memantau dengan cermat setiap pergerakan” dan memperingatkan bahwa pengerahan pasukan serta ancaman militer “bertentangan dengan prinsip-prinsip sistem internasional”.

“Jika prinsip-prinsip itu dilanggar, ketidakamanan akan menimpa semua pihak. Kami akan memberikan respons yang menyeluruh dan disesalkan terhadap setiap agresi.”

Seiring Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan, Iran menegaskan sikapnya tidak berubah. Teheran menyatakan siap membalas setiap serangan yang dilancarkan.

“Negara-negara di kawasan sepenuhnya mengetahui bahwa setiap pelanggaran keamanan di kawasan tidak hanya akan berdampak pada Iran. Ketidakamanan itu menular,” kata Baghaei.

Exit mobile version