Macron Kembali Tunjuk Sebastien Lecornu sebagai Perdana Menteri, Akhiri Krisis Politik Prancis

Presiden Prancis Macron

KabarIndonesia.id — Presiden Prancis Emmanuel Macron kembali menunjuk Sebastien Lecornu sebagai perdana menteri, hanya empat hari setelah menerima pengunduran dirinya. Langkah ini diambil di tengah upaya menjaga stabilitas politik Prancis yang tengah diguncang kebuntuan parlemen dan meningkatnya tekanan oposisi.

Lecornu sebelumnya mengundurkan diri pada Senin, kurang dari sebulan setelah dilantik. Namun, melalui pernyataan resmi Istana Elysee pada Jumat, Macron kembali mempercayakan dirinya untuk membentuk pemerintahan baru. Keputusan ini menjadi kejutan politik setelah serangkaian negosiasi intens antara kubu pemerintah dan oposisi yang gagal menemukan titik kompromi.

Terdapat tiga alasan utama di balik keputusan Macron untuk kembali menunjuk Lecornu sebagai perdana menteri.

  1. Mengakhiri Krisis Politik
    Dalam unggahan di platform X, Lecornu menyatakan kesiapannya untuk menjalankan mandat yang diberikan Presiden Macron. “Saya menerima karena kewajiban misi yang dipercayakan kepada saya oleh Presiden Republik untuk melakukan segala yang mungkin guna menyediakan anggaran bagi Prancis pada akhir tahun dan untuk mengatasi persoalan kehidupan sehari-hari warga negara kita,” tulisnya.
    Lecornu menegaskan bahwa langkah ini dimaksudkan untuk mengakhiri krisis politik yang menimbulkan keresahan di kalangan rakyat serta merusak citra dan kepentingan Prancis di mata dunia.
  2. Menyukseskan Anggaran Nasional
    Sejak pertama kali dilantik, Lecornu menghadapi tekanan besar untuk meloloskan rancangan anggaran negara di tengah parlemen yang terbelah. Krisis utang yang semakin memburuk memperburuk situasi, sementara jajaran menteri yang ia ajukan menuai kritik keras dari partai kanan maupun kiri. Mereka menuduh kabinet Lecornu terlalu dipenuhi tokoh lama yang pernah menjabat di bawah pemerintahan mantan Perdana Menteri Francois Bayrou. Tekanan politik tersebut sempat mendorongnya untuk mundur, sebelum akhirnya diminta kembali oleh Macron demi menuntaskan pembahasan anggaran.
  3. Melawan Sentimen Negatif Oposisi
    Pengangkatan kembali Lecornu memicu reaksi tajam dari berbagai pihak. Jordan Bardella, ketua partai sayap kanan National Rally, menyebut langkah Macron sebagai “lelucon buruk dan penghinaan terhadap rakyat Prancis.”
    Sementara itu, Mathilde Panot dari partai sayap kiri La France Insoumise menuding Macron mempertahankan kekuasaan meskipun popularitasnya merosot drastis. “Belum pernah sebelumnya seorang presiden begitu ingin memerintah dengan rasa jijik dan marah,” ujarnya di X.
    Panot menambahkan, “Lecornu yang mengundurkan diri pada hari Senin diangkat kembali pada hari Jumat. Macron hanya menunda hal yang tak terelakkan: kepergiannya.” Ia bahkan menyerukan dimulainya proses pemakzulan terhadap Macron.

Pengangkatan kembali Lecornu menjadi ujian besar bagi pemerintahan Macron yang kini berjuang menstabilkan politik dalam negeri, menjaga kepercayaan publik, serta menghadapi tantangan ekonomi yang kian berat menjelang berakhirnya masa jabatannya.