• Kabar Makassar
  • Kabar Jawa
  • Kabar Sunda
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Kalimantan
  • Serambi Muslim
KabarIndonesia.id
  • Home
  • AI
    • Bisnis dan Ekosistem
    • Edukasi dan Masa Depan
    • Industri dan Terapan
  • Nasional
  • Daerah
    • Jawa Bali
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Nusa Tenggara
    • Papua
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Pajak
    • Syariah
  • Politik
  • Gaya Hidup
    • Fasion
    • Film dan Musik
    • Otomotif
    • Teknologi
  • Lainnya
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Cek Fakta
    • Video
    • Indeks
No Result
View All Result
Kabar Indonesia
No Result
View All Result
  • Home
  • RUBRIK
  • TENTANG KAMI

Minimalisir Potensi Bahaya Preeklampsia pada Ibu Hamil dengan ‘Act Now, Screen Now’

by Herlin Saddid
30 Desember 2023
Home News
Share ke FBShare ke XShare di WA

KabarIndonesia.id –– Meski kehamilan merupakan kebahagiaan bagi pasangan yang menginginkan keturunan, secara ilmiah proses kehamilan ini merupakan suatu proses luar biasa yang sangat rumit mulai dari fertilisasi (bergabungnya sperma dan telur), menempelnya buah kehamilan di dalam rahim, tumbuh dan berkembangnya janin serta plasenta yang terkadang tidak semuanya dapat berjalan dengan lancar. Didapatkan satu kondisi berbahaya yang meskipun cukup sering terjadi namun masih belum terlalu dikenal, kondisi ini spesifik hanya terjadi pada kehamilan yaitu preeklampsia.

Preeklampsia atau kondisi hipertensi (meningkatnya tekanan darah) yang terjadi pada saat kehamilan kadang dikenal juga dengan nama toxemia gravidarum / keracunan kehamilan. Kata Eklampsia sebenarnya diambil dari bahasa Yunani yang diartikan ‘Lightning’ atau ‘Petir’ sebagai perumpaman terjadinya kondisi kejang yang mendadak pada kehamilan. Pre-eklampsia sendiri merupakan kondisi sebelum terjadinya eklampsia yang merupakan komplikasi menakutkan dari preeklampsia. Meskipun penyebab pasti belum dapat dijelaskan namun preeklampsia sering dihubungkan dengan adanya permasalahan plasenta. Oleh karena itu, preeklampsia terjadi pada paruh akhir kehamilan (diatas 20 minggu) atau setelah plasenta terbentuk di dalam rahim hingga 6 minggu setelah melahirkan. 

“Kami menganggap serius masalah ini dari tahun ke tahun, demikian juga para dokter kandungan di seluruh dunia. Kami berharap para ibu hamil beserta pasangan dan keluarganya juga lebih menyadari bahayanya dengan mengenali gejalanya dan terbuka pada dokter kandungannya mengenai masalah kesehatan yang dialami. Dengan demikian, diharapkan kita bersama-sama bisa lebih meningkatkan awareness dan segera bergerak (act now, screen now) untuk mencegah terjadinya preeklampsia ini,” kata Dr. dr. Agus Sulistyono, SpOG(K) KFM, Ketua Himpunan Kedokteran Fetomaternal Surabaya yang juga Ketua Penurunan Angka Kematian Ibu Surabaya.

Meskipun tidak semua mengenalinya, sebenarnya pre-eklampsia ini terjadi pada lebih dari 10 juta wanita di seluruh dunia dan berdampak pada lebih dari 2,5 juta persalinan pre-term (persalinan sebelum masanya). Data dari International Society for the Study of Hypertension in Pregnancy dan Preeclampsia Foundation mencatat bahwa pre-eklamsia mengakibatkan kematian Ibu hingga sekitar 76 ribu disertai kematian 500 ribu bayi setiap tahunnya. Artinya, sekitar 10 persen atau 1 dari 10 ibu hamil ini akan mengalami preeklampsia dan 20 persen dari yang terdampak preeklampsia ini akan berhubungan dengan terjadinya persalinan preterm.

Keseriusan menghadapi preeklampsia ini sangat diperlukan, karena fakta menunjukkan kematian Ibu sebanyak itu secara disproporsional 99 persen terjadi di negara dengan pendapatan perkapital yang rendah (low-middle income countries). Angka Kematian Ibu (AKI) bukan hanya sebagai indikator kesehatan melainkan indikator kesejahteraan suatu negara, namun sayangnya AKI di Indonesia ini masih cukup tinggi atau sekitar 305 per 100 ribu kelahiran hidup dimana jumlah ini menjadi terbanyak kedua di wilayah ASEAN (tertinggi Laos, AKI: 357; terendah Singapore, AKI: 7). “Diproyeksikan sekitar 14.640 Ibu hamil meninggal setiap tahunnya dan ini terjadi secara konstan (jumlah yang sama dengan sepertiga total kematian terkait Covid-19 di tahun 2020). Jika kita telaah lebih dalam lagi ternyata mayoritas penyebab kematian Ibu ini adalah preeklampsia (sekitar 33,07 persen),” kata dr Manggala Pasca Wardhana, SpOG(K) dari Himpunan Kedokteran Fetomaternal Surabaya.

Gejala dan Tatalaksana Preeklampsia

“Hingga saat ini, belum ditemukan terapi ataupun obat untuk preeklampsia. Satu – satunya cara untuk menghentikan proses hipertensi dan kerusakan organ adalah dengan menyegerakan persalinan, sehingga sumber toksin / racun yang berasal dari plasenta tadi dapat dilahirkan, diselesaikan dan dampak kerusakan organ Ibu hamil dapat dihentikan,” kata dr Nareswari Imanadha Cininta Marcianora, SpOG dari Himpunan Kedokteran Fetomaternal Surabaya.

Meski belum dapat diterapi, namuna dr Cininta mengatakan bahwa preeklampsia dapat diprediksi melalui gejala berikut:  

• Memiliki riwayat tekanan darah tinggi sebelum hamil

• Memiliki riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya

• Memiliki penyakit tertentu: diabetes, gangguan ginjal dan penyakit autoimun seperti lupus, antifosfolipid

• Obesitas (indeks masa tubuh kurang lebih 30 kg/m2)

• Riwayat keluarga menderita preeklampsia

• Hamil kembar dua atau lebih

• Hamil pertama kali

• Jarak kehamilan terakhir kurang lebih 5 tahun

• Berusia diatas 40 tahun

Sehingga apabila ibu hamil menngalami hal tersebut sebaiknya segera melakukan skrining risiko melalui tenaga kesehatan tempat pasien tersebut melakukan kontrol kehamilan (Act now, screen now).

Kebanyakan dari pasien yang mengalami preeklampsia tidak akan memberikan keluhan apapun. Oleh karena itu, ibu hamil wajib memeriksakan tekanan darah secara rutin, agar mengetahui secara dini jika didapatkan hipertensi. Jika ibu hamil sudah merasakan keluhan seperti pusing, pandangan kabur atau nyeri ulu hati dan sesak, umumnya kondisi ini identik dengan preeklampsia yang berat, yang kemungkinan besar berdampak pada komplikasi, kecacatan atau bahkan kematian bagi Ibu dan Janin. 

Secara umum penatalaksanaan preeklampsia pada kondisi berat adalah persalinan, sehingga sering persalinan pada kondisi usia kehamilan yang masih dini diperlukan, sehingga timbul masalah lainnya yaitu meningkatnya pramaturitas yang menjadi faktor utama tingginya angka kematian bayi. Tidak selesai disini, beberapa penelitian juga menunjukkan dampak jangka panjang dari preeklampsia ini pada ibu tersebut, antara lain meningkatnya risiko stroke, hipertensi, diabetes melitus, kelainan ginjal hingga kelainan jantung. 

Kondisi di negara berkembang seperti Indonesia juga tidak terkecuali mendapatkan dampak yang cukup berat akibat preeklampsia. 

Salah satu penelitian di RS rujukan tersier Surabaya menunjukkan tingginya prevalensi preeklampsia hingga 21 persen, dan yang lebih berat lagi ditemukan kondisi komplikasi organ yang cukup berat yaitu penumpukan cairan di paru – paru hingga 5,6 persen kasusnya atau 2 kali lipat dari laporan negara lain. Ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan penanganan preeklampsia di negara kita masih belum baik sehingga masih sering ditemui kasus preeklampsia dalam kondisi yang sudah buruk.

Tindakan kesehatan yang paling penting dan memiliki dampak signifikan adalah prevensi atau pencegahan. Peningkatan edukasi kesehatan di bidang kehamilan ini dapat menjadi upaya pencegahan terjadinya preeklampsia sebagai salah satu komplikasi kehamilan yang berat. Beberapa contoh upaya pencegahan ini telah dibuktikan di Surabaya melalui program PENAKIB (Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi) dimana dengan menerapkan skrining preeklampsia secara masif di layanan kesehatan dapat menurunkan angka kematian Ibu dari 60 kasus di tahun 2012 hingga hanya 25 kasus di tahun 2019, total kematian karena preeklampsia juga dapat ditekan dari 18 kasus menjadi hanya 10 kasus. 

Tentunya upaya pencegahan ini akan semakin berhasil jika pengetahuan dan awareness ini juga diketahui oleh bumil ataupun pasangan usia subur dan keluarganya sehingga bagaimana melakukan persiapan kehamilan, mengetahui apa potensi bahaya kehamilan seperti preeklampsia ini dapat dicegah dan diminimalisir dampaknya. “Dengan memahami potensi bahaya yang dapat terjadi pada setiap kehamilan, kita bersama dapat meningkatkan kewaspadaan dan berjuang bersama untuk menurunkan angka kematian Ibu di Indonesia,” tutup Dr. dr. Agus Sulistyono, SpOG(K) KFM.

Herlin Saddid

Next Post
KabarIndonesia.ID

23 tahun Reformasi: Mundurnya perlindungan kebebasan sipil

Recommended.

KabarIndonesia.ID

Narkoba di Kampus Negeri Makassar, Diduga Dikendalikan Napi

30 Desember 2023
KabarIndonesia.ID

Timnas U-19 Gagal Melaju ke Semifinal, PSSI Ajukan Protes Ke AFF

30 Desember 2023

Subscribe.

Trending.

Mulai 1 Juli 2026, Komisi Gojek dan Grab untuk Ojol Resmi Jadi 8 Persen

Mulai 1 Juli 2026, Komisi Gojek dan Grab untuk Ojol Resmi Jadi 8 Persen

24 Juni 2026
Google DeepMind Gandeng A24 Kembangkan AI untuk Produksi Film

Google DeepMind Gandeng A24 Kembangkan AI untuk Produksi Film

25 Juni 2026
DPR Usul AI Bantu Diagnosis di Daerah, Ini Tanggapan Menkes

DPR Usul AI Bantu Diagnosis di Daerah, Ini Tanggapan Menkes

25 Juni 2026
Tips Aman Menggunakan Memory ChatGPT untuk Kerja Digital

Benarkah ChatGPT Semakin “Mengenal” Kamu? Begini Cara Kerja Memory, Chat History, dan Privasi Data

24 Juni 2026
AI Tak Bisa Gantikan Ulama dan Tradisi Talaqqi, Ini Penjelasan Kemenag

AI Tak Bisa Gantikan Ulama dan Tradisi Talaqqi, Ini Penjelasan Kemenag

26 Juni 2026
Kabar Indonesia

Aktual, akurat, berbasis data mengabarkan Indonesia.

Media digital berteknologi AI di Indonesia yang andal dan akurat memberitakan informasi seputar AI untuk membangun ekosistem AI yang sehat.

Follow Us

Rubrik

  • Kecerdasan Artifisial
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Politik & Pemilu
  • Olahraga
  • Cek Fakta

Jaringan

  • Kabar Makassar
  • Kabar Jawa
  • Kabar Sunda
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Kalimantan
  • Rujukan Desa
  • Serambi Muslim

Manajemen

PT. Kabar Grup Indonesia

Alamat Redaksi:
Office Park OL3.12A, The Bellagio Mall Jl. Kawasan Mega Kuningan Kav.E.4.3, Mega Kuningan, Kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi, Wilayah Jakarta Selatan

Email: info@kabarindonesia.id

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • Review
  • Apple
  • Applications
  • Computers
  • Gaming
  • Gear
    • Audio
    • Camera
    • Smartphone
  • Microsoft
  • Photography
  • Security

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Not enough quota to unlock this post
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version