• Kabar Jawa
  • Kabar Kalimantan
  • Kabar Makassar
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Sumatera
  • Kabar Sunda
KabarIndonesia.id
  • Home
  • AI
    • Bisnis dan Ekosistem
    • Edukasi dan Masa Depan
    • Regulasi dan Etika
    • Industri dan Terapan
    • Inovasi dan Tren
  • Nasional
  • Daerah
    • Jawa Bali
    • Sumatera
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Nusa Tenggara
    • Papua
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Pajak
    • Syariah
  • Politik
  • Gaya Hidup
    • Fashion
    • Film dan Musik
    • Otomotif
    • Teknologi
  • Lainnya
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Cek Fakta
    • Video
    • Indeks
No Result
View All Result
Kabar Indonesia
No Result
View All Result
  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kode Etik dan Pedoman Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

DPR Minta Negara Tanggung Biaya Pasien Kronis Meski BPJS PBI Nonaktif

by Gusti Ridani
10 Februari 2026
Home Kabar Utama
Share ke FBShare ke XShare di WA

KabarIndonesia.id — Penonaktifan mendadak kepesertaan BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI-JKN) memicu alarm keras di DPR RI. Ratusan pasien penyakit kronis, khususnya gagal ginjal yang bergantung pada layanan cuci darah rutin, kini terancam kehilangan akses layanan kesehatan akibat kebijakan administratif tersebut.

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menilai kebijakan ini membuka celah serius dalam perlindungan kesehatan masyarakat miskin.

Ia menyoroti penerapan Surat Keputusan Menteri Sosial Nomor 3/HUK/2026 yang berlaku sejak 1 Februari 2026, sebagai dasar penonaktifan PBI melalui pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Meski bertujuan tepat sasaran, kebijakan itu berdampak langsung pada penyakit kronis pasien.

Data Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) mencatat sekitar 200 pasien cuci darah dengan status PBI di pengaktifan perawatannya hingga 6 Februari 2026.

“Peraturan umum sebenarnya sudah ada, larangan menolak pasien darurat juga jelas. Tapi tanpa payung hukum tertulis yang tegas dan mengikat, negara justru membiarkan rumah sakit ragu dan pasien miskin menanggung risikonya. Ini kegagalan negara dalam melindungi nyawa rakyat,” tegas Edy dalam keterangan rilisnya, Selasa (10/2/2026).

Politisi PDI Perjuangan itu menjelaskan, secara normatif kerangka hukum Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah melarang rumah sakit menolak pasien gawat darurat, termasuk mereka yang bermasalah secara administratif.

Ketentuan tersebut tercantum dalam UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN, Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang JKN, serta UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Namun, di lapangan, aturan itu dinilai tidak berjalan efektif. Rumah sakit tidak memiliki jaminan tertulis terkait pelayanan kesehatan maupun kepastian pembayaran klaim bagi pasien PBI yang diaktifkan.

“Pemerintah tidak bisa terus mengandalkan imbauan lisan atau pernyataan pejabat. Rumah sakit bekerja berdasarkan aturan tertulis dan hitungan risiko. Oleh karena itu, negara wajib menerbitkan peraturan atau Surat Keputusan yang secara eksplisit menjamin rumah sakit tetap melayani pasien BPJS PBI nonaktif dan klaimnya. Tanpa itu, persetujuan layanan akan terus berulang,” ujarnya.

Edy mengungkapkan, DPR RI telah menggelar rapat bersama BPJS Kesehatan, Kementerian Sosial, Badan Pusat Statistik (BPS), serta jajaran pemerintah terkait.

Rapat tersebut menghasilkan keputusan yang tegas sebagai bentuk keberpihakan negara kepada rakyat.

DPR meminta pemerintah menerbitkan aturan tertulis berupa surat edaran yang menjamin pasien gagal ginjal dan penyakit kronis sejenis dengan status PBI nonaktif tetap dibiayai oleh negara selama tiga bulan ke depan.

Legislator Daerah Pemilihan Jawa Tengah III itu juga menekankan pentingnya penghentian pendekatan sektoral dalam pembenahan data PBI.

Menurutnya, BPS, Kementerian Sosial, dan BPJS Kesehatan harus bersinergi penuh dalam memperbaiki DTSEN yang menjadi basis data peserta PBI JKN.

“Kalau datanya salah, yang menanggung risikonya adalah rakyat kecil. Maka pemerintah harus hadir, bekerja bersama, dan bertanggung jawab. Jangan rakyat yang dikorbankan demi target administrasi,” tegasnya.

Selain itu, DPR juga mendesak BPJS Kesehatan menyediakan sistem notifikasi yang lebih jelas dan lebih awal kepada peserta PBI yang dinonaktifkan.

Edy menilai tidak manusiawi jika masyarakat baru mengetahui status kepesertaannya saat sudah berada di rumah sakit dalam kondisi sakit berat.

Edy juga menilai mekanisme reaktivasi kepesertaan PBI yang berlaku saat ini tidak berpihak pada pasien penyakit kronis.

Prosedur berjenjang melalui dinas sosial dengan waktu tunggu yang tidak pasti dianggap berbeda dengan karakter layanan cuci darah yang bersifat rutin dan tidak dapat ditunda.

“Pasien cuci darah tidak bisa menunggu urusan birokrasi,” kata Edy.

Ia menegaskan bahwa hak atas kesehatan merupakan hak konstitusional warga negara yang tidak boleh dicabut secara sepihak.

“Kalau negara membiarkan pasien miskin sakit kronis kehilangan layanan hanya karena status kepesertaan nonaktif, maka jaminan kesehatan nasional kehilangan maknanya,” pungkas Edy.

Tags: Aktivasi BPJS KesehatanBPJS KesehatanBPJS PBIJaminan kesehatanPBI JKNPeserta BPJS Kesehatan

Gusti Ridani

Jurnalis sejak 2020, bergabung ke Kabar Grup Indonesia mulai 2024 sebagai editor.

Next Post
Mudik Lebaran 2026 Lebih Murah, Tiket Transportasi Didiskon Hingga 30 Persen

Mudik Lebaran 2026 Lebih Murah, Tiket Transportasi Didiskon Hingga 30 Persen

Recommended.

KabarIndonesia.ID

Resmi Dimanfaatkan, Isolasi Apung Didominasi Cluster Keluarga

30 Desember 2023
Kenaikan PPN Menjadi 12% Dapat Menambah Beban Masyarakat

Kenaikan PPN Menjadi 12% Dapat Menambah Beban Masyarakat

3 Desember 2024

Subscribe.

Trending.

Ketua MPR RI Ahmad Muzan

Prabowo Fokus Tata Hukum Nasional, Respons Kasus Suap Hakim Jadi Sorotan

17 April 2025
Belum Lapor SPT? Ini Cara Ajukan Perpanjangan hingga 2 Bulan

Menkeu Purbaya Akui Aktivasi Akun Coretax Mandiri Rumit, Minta DJP Perjelas Panduan

1 Januari 2026
KabarIndonesia.ID

Harga Emas Hari Ini di Angka Rp1.020.000

30 Desember 2023
BMKG Bantah Narasi OMC Sebabkan Cuaca Tak Stabil dan Banjir Besar

BMKG Bantah Narasi OMC Sebabkan Cuaca Tak Stabil dan Banjir Besar

29 Januari 2026
Harga Emas Antam 23 November Naik Rp21.000, Tembus Rp1,541 Juta per Gram

Harga Emas Antam 23 November Naik Rp21.000, Tembus Rp1,541 Juta per Gram

25 November 2024
Kabar Indonesia

Aktual, akurat, berbasis data mengabarkan Indonesia.

Pengelola

PT. Kabar Grup Indonesia

Alamat Redaksi:
Office Park OL3.12A, The Bellagio Mall Jl. Kawasan Mega Kuningan Kav.E.4.3, Setiabudi, Jakarta Selatan
Email: info@kabarindonesia.id

Rubrik

  • AI
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Politik & Pemilu
  • Olahraga
  • Cek Fakta

Jaringan Media

  • Kabar Jawa
  • Kabar Kalimantan
  • Kabar Pekanbaru
  • Kabar Makassar
  • Kabar Sumatera
  • Kabar Sunda
  • Rujukan Desa
  • Serambi Muslim

Media Sosial

Follow Us

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kode Etik dan Pedoman Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Kabar Indonesia - Managed by Kabar Grup Indonesia.

No Result
View All Result
  • Home
  • AI
  • Nasional
  • Daerah
  • Politik & Pemilu
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Cek Fakta
  • Video
  • Indeks

© 2026 Kabar Indonesia - Managed by Kabar Grup Indonesia.

Not enough quota to unlock this post
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version