KabarIndonesia.id — Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, memperingatkan bahwa Jalur Gaza berisiko memasuki situasi “tanpa perang, tanpa damai” jika tidak ada langkah nyata menuju rekonstruksi dan penyelesaian politik yang berkelanjutan.
Dalam wawancaranya dengan harian Inggris The Guardian, al-Ansari mengatakan bahwa kondisi tersebut bukanlah situasi yang diinginkan oleh Doha, yang selama ini berperan penting sebagai mediator dalam perundingan antara Israel dan Hamas.
Qatar, bersama Mesir dan Amerika Serikat, menjadi pihak yang memfasilitasi tercapainya gencatan senjata antara kedua pihak. Kesepakatan tersebut telah menurunkan intensitas serangan Israel secara signifikan dan mendorong penarikan sebagian pasukan dari wilayah Gaza, dengan imbalan pembebasan sejumlah tawanan.
“Komunitas internasional perlu masuk, menilai kerusakan, mulai memikirkan rekonstruksi, mengerjakan rekonstruksi, dan secara resmi menjaga perdamaian,” kata al-Ansari. “Inilah yang akan secara signifikan mengubah seluruh proses dari perang ke hari setelahnya.”
Sementara itu, mantan Menteri Kehakiman dan Luar Negeri Israel, Yossi Beilin, mengatakan bahwa ia “akan terkejut” jika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membatalkan gencatan senjata, meskipun tensi di lapangan masih tinggi dengan puluhan serangan dilaporkan terjadi di Gaza.
“Ini adalah sesuatu yang telah ia janjikan, terutama kepada Presiden Trump, dan saya akan sangat terkejut jika ia tidak melanjutkan perjanjian tersebut,” ujar Beilin.
Ia menilai kedua pihak masih berhati-hati dalam melangkah ke fase politik berikutnya. “Di kedua belah pihak, ada perasaan bahwa mungkin terlalu dini untuk memilih tahap kedua, terutama karena bagi Hamas itu berarti mereka akan kehilangan kendali sebagai penguasa di Gaza,” jelasnya.
Beilin juga menyebut bahwa kemungkinan Netanyahu mendukung proses diplomatik menuju pembentukan negara Palestina sangat kecil. “Bagi Netanyahu untuk memilih proses politik yang pada akhirnya akan membuka jalan bagi pembentukan negara Palestina, berada di luar jangkauannya. Ia menentang negara Palestina,” ungkapnya.












