KabarIndonesia.id — Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi menyetujui konsorsium asal Tiongkok, Huayou, untuk mengambil alih kelanjutan proyek baterai kendaraan listrik yang sebelumnya dikelola oleh LG. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia usai rapat terbatas bersama Presiden di Istana Kepresidenan, Kamis (Mei 2025).
“Alhamdulillah sudah diputuskan oleh Bapak Presiden… sekarang sudah dilakukan konsorsium Huayou, dan ini tidak ada masalah lagi. Ini sudah siap dilakukan ground breaking,” ujar Bahlil.
Proyek hilirisasi senilai USD 9,8 miliar ini merupakan salah satu program strategis pemerintah dalam mendorong ekosistem kendaraan listrik nasional. Struktur kepemilikan di sektor hulu menempatkan BUMN sebagai pemegang saham mayoritas sebesar 51 persen, sebuah langkah penting untuk menjaga kendali nasional atas sumber daya strategis.
Untuk tahap joint venture (JV) lanjutan, saat ini Indonesia menguasai 30 persen saham. Namun, menurut Bahlil, pemerintah menargetkan peningkatan kepemilikan hingga 40-50 persen, dengan melibatkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dalam negosiasi yang sedang berlangsung.
Menanggapi isu hengkangnya LG dari proyek tersebut, Bahlil menegaskan bahwa narasi tersebut tidak akurat.
“Yang benar itu adalah saya sebagai ketua satgas waktu itu… memutuskan untuk membatalkan apa yang dilakukan oleh LG karena terlalu lama,” jelasnya. “Kemudian kami mencari penggantinya, yaitu Huayou, bersama Pak Rosan dan Pak Erick.”
Proyek baterai kendaraan listrik ini memiliki target kapasitas 30 GWh, dengan 10 GWh di antaranya sudah dibangun oleh LG. Sisanya, 20 GWh, akan dikerjakan oleh Huayou.
Sejauh ini, investasi yang telah terealisasi mencapai USD 1,2 miliar (sekitar Rp20,2 triliun). Sisa investasi sebesar USD 8,6 miliar (sekitar Rp145,2 triliun) akan ditanggung oleh Huayou dan mitra dalam proyek lanjutan tersebut.
Langkah ini menandai kelanjutan komitmen pemerintah Indonesia dalam mempercepat transisi energi dan menjadikan Tanah Air sebagai pemain utama dalam industri baterai kendaraan listrik global.












