Lebih dari Seperlima Penduduk Uni Eropa Terancam Kemiskinan, Inflasi Naik Jadi 2,2 Persen pada September

Ilustrasi: Kemiskinan Meningkat, Eropa Tak Lagi Jadi Kiblat Peradaban Dunia

KabarIndonesia.id — Lebih dari seperlima penduduk Uni Eropa (UE) berisiko mengalami kemiskinan atau eksklusi sosial pada tahun 2024. Data tersebut diungkapkan oleh kantor statistik Uni Eropa, Eurostat, dalam laporan terbarunya yang dirilis pada Jumat (18/10/2025).

Laporan itu menyebutkan terdapat lima wilayah yang mencatat tingkat kemiskinan lebih dari dua kali lipat rata-rata Uni Eropa. Guyana Prancis — wilayah seberang laut milik Prancis — menjadi daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi, mencapai 59,5 persen. Disusul Calabria dan Campania di Italia selatan dengan masing-masing 48,8 persen dan 43,5 persen, serta dua kota otonom Spanyol, Melilla dan Ceuta, dengan lebih dari 40 persen penduduknya masuk kategori berisiko.

Secara keseluruhan, sebanyak 25 wilayah di Uni Eropa memiliki setidaknya sepertiga penduduk yang berisiko mengalami kemiskinan atau eksklusi sosial. Wilayah-wilayah tersebut umumnya terkonsentrasi di Yunani, Bulgaria, Spanyol, Italia, dan Rumania, serta di daerah terluar Prancis. Dua wilayah perkotaan di Eropa Barat — Wilayah Ibu Kota Brussel (Belgia) dan Bremen (Jerman) — juga masuk dalam daftar tersebut.

Sebaliknya, terdapat 26 wilayah yang mencatat tingkat kemiskinan di bawah 12,5 persen. Beberapa di antaranya berada di Italia bagian utara dan tengah, seperti Provinsi Otonom Bolzano yang mencatat tingkat kemiskinan terendah di UE, yakni 6,6 persen. Enam dari delapan wilayah di Republik Ceko juga berada di bawah ambang batas yang sama, dengan Jihozápad mencatat angka terendah ketiga di blok tersebut, yaitu 8,8 persen.

Wilayah dengan tingkat kemiskinan rendah lainnya mencakup tiga daerah di Belgia utara (Vlaams Gewest), tiga wilayah di Austria, dua di Polandia, daerah Közép-Dunántúl di barat laut Hongaria, serta wilayah ibu kota di Kroasia, Rumania, Slovenia, dan Slovakia.

Sementara itu, Eurostat juga mencatat inflasi konsumen tahunan di kawasan euro naik menjadi 2,2 persen pada bulan September, meningkat dari 2 persen pada bulan Agustus. Angka tersebut sesuai dengan estimasi awal pasar dan masih berada di atas target jangka menengah Bank Sentral Eropa (ECB) sebesar 2 persen.

Sektor jasa menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan 3,2 persen secara tahunan, diikuti makanan, alkohol, dan tembakau yang naik 3 persen, serta barang industri non-energi sebesar 0,8 persen. Sebaliknya, harga energi turun 0,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi faktor utama yang menekan laju inflasi.

Tingkat inflasi inti — yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi — naik menjadi 2,4 persen per tahun, sedikit meningkat dibandingkan 2,3 persen pada bulan sebelumnya.

Rumania menjadi negara dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi di kawasan euro, mencapai 8,6 persen pada September, diikuti oleh Estonia (5,3 persen), serta Latvia dan Slovakia (masing-masing 4,6 persen). Adapun tingkat inflasi terendah tercatat di Siprus Yunani dengan 0 persen, disusul Prancis (1,1 persen), serta Yunani dan Italia (masing-masing 1,8 persen).

Secara bulanan, indeks harga konsumen naik 0,1 persen pada September — sama seperti bulan sebelumnya. Zona euro, atau EA20, merupakan kelompok 20 negara anggota Uni Eropa yang menggunakan euro sebagai mata uang resmi mereka.

Exit mobile version