Iran Balas Serangan AS: Rudal Hantam Pangkalan Militer di Qatar Setara Jumlah Bom ke Fasilitas Nuklir

Ilustrasi - Pangkalan udara Iran

KabarIndonesia.id — Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (Supreme National Security Council/SNSC) pada Senin (23/6) mengumumkan bahwa jumlah rudal yang diluncurkan ke Pangkalan Udara Al Udeid milik Amerika Serikat di Qatar, setara dengan jumlah bom yang dijatuhkan AS ke fasilitas nuklir Iran.

Pernyataan itu dirilis menyusul serangan balasan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap pangkalan militer strategis AS sebagai respons atas pemboman terhadap tiga fasilitas nuklir Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan sehari sebelumnya.

Menurut Nour News, media yang berafiliasi dengan SNSC, Iran menegaskan bahwa serangan tersebut diarahkan secara presisi dan tidak membahayakan kawasan permukiman maupun fasilitas sipil di Qatar. “Kami pastikan tidak ada risiko bagi rakyat Qatar, yang kami anggap sebagai saudara dalam hubungan historis yang erat,” tegas pernyataan SNSC.

Langkah Iran ini disebut sebagai bentuk pertahanan terukur yang tetap mempertahankan komitmen atas stabilitas kawasan, sembari menegaskan kapasitas militernya dalam merespons ancaman eksternal secara proporsional.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran masih dalam tahap evaluasi. Ia menyebut perlu waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk menganalisis dampak penuh dari operasi tersebut.

Operasi yang diberi nama Operation Midnight itu, menurut Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, melibatkan peluncuran lebih dari 24 rudal Tomahawk, penggunaan 14 bom penghancur bunker, serta pengerahan lebih dari 125 unit pesawat tempur.

Citra satelit yang beredar pada Minggu memperlihatkan dampak signifikan dari operasi AS di situs nuklir Fordow, dengan enam kawah besar muncul di sekitar dua titik masuk utama fasilitas tersebut—indikasi kuat lokasi jatuhnya bom penghancur bunker.

Ketegangan antara kedua negara kini kembali memuncak, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan Teluk yang sudah lama menjadi pusat rivalitas geopolitik global.

Exit mobile version