BPI Danantara Diversifikasi Investasi, Tempatkan Dana di SBN untuk Jaga Likuiditas Nasional

Wisma Danantara
Kantor Danantara Indonesia di Gatot Subroto, Jakarta, 6 Agustus 2025. Tempo/Amston Probel

KabarIndonesia.id — Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menempatkan sebagian dananya di pasar modal, termasuk pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN), sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio nasional. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas sekaligus likuiditas investasi jangka panjang Indonesia.

Managing Director Treasury Danantara Indonesia, Ali Setiawan, menjelaskan bahwa strategi tersebut dirancang agar penyaluran dana tetap seimbang antara proyek besar berisiko tinggi dan aset yang mudah dicairkan. “Kalau kita menerima dana 100, tentu tidak semuanya langsung digunakan untuk proyek berisiko tinggi. Sebagian perlu disimpan di instrumen yang likuid agar bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu,” ujarnya, Minggu (19/10/2025).

Ali menjelaskan, portofolio Danantara ke depan akan terbagi menjadi dua kategori besar: investasi langsung (private investment) dan investasi pasar modal (public investment). “Misalnya 60-70 persen digunakan untuk membangun proyek strategis, sementara 30-40 persen ditempatkan pada aset likuid seperti SBN,” katanya.

Menurutnya, pendekatan ini penting agar Danantara tetap fleksibel dalam mendukung proyek-proyek prioritas tanpa mengorbankan stabilitas jangka pendek. Porsi cadangan pada aset likuid juga berfungsi menopang ketahanan pasar modal domestik.

Lebih lanjut, Ali menegaskan bahwa karakteristik Danantara berbeda dengan sovereign wealth fund di negara lain. Sumber dananya bukan berasal dari ekspor komoditas atau cadangan devisa, melainkan murni dari dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam denominasi rupiah. “Pendanaan kami seluruhnya bersumber dari dividen BUMN dan dalam rupiah. Jadi sifatnya lebih domestik, tidak seperti sovereign fund yang berasal dari hasil minyak atau dolar,” ujarnya.

Sekitar 60 persen investasi langsung diarahkan ke proyek berskala besar dan berdampak jangka panjang, sementara sebagian lainnya akan menyasar proyek quick win melalui kolaborasi dengan sektor swasta. Delapan sektor menjadi fokus utama Danantara, meliputi hilirisasi, energi (termasuk energi terbarukan), kesehatan, teknologi, pangan, serta infrastruktur berkelanjutan.

Beberapa proyek kini dalam tahap studi kelayakan bersama pemerintah daerah, kementerian, dan mitra internasional. Salah satunya adalah proyek waste to energy (WtE) yang dinilai strategis untuk mendukung pengelolaan sampah perkotaan sekaligus transisi energi bersih.

“Proyek-proyek ini membutuhkan waktu. Misalnya pembangunan hydropower plant saja bisa empat hingga lima tahun. Karena itu, ekspektasi hasil harus realistis,” ujarnya.

Ali menegaskan bahwa kombinasi investasi langsung dan penempatan dana di pasar modal akan memberikan multiplier effect besar bagi perekonomian nasional. “Kami memastikan investasi yang dilakukan bukan hanya terlihat di atas kertas, tetapi benar-benar memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” tandasnya.

Exit mobile version