BMKG Pantau Bibit Siklon 91S, Cuaca Ekstrem Mengintai Sepekan ke Depan

Cuaca Ekstrem Diprediksi Berlanjut, Ini Wilayah Jabodetabek yang Perlu Waspada
Ilustrasi cuaca buruk (Dok : Int).

KabarIndonesia.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan mendominasi berbagai wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi atmosfer global hingga regional, termasuk munculnya bibit siklon tropis di selatan Indonesia.

Dalam beberapa hari terakhir, BMKG mencatat hujan dengan intensitas terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Nusa Tenggara Barat mencapai 83,8 mm per hari, Maluku 70,4 mm per hari, Sulawesi Selatan 63,4 mm per hari, Bali 61,5 mm per hari, Banten 60,2 mm per hari, Jawa Barat 54,8 mm per hari, serta Sulawesi Barat 50,1 mm per hari.

Cuaca ekstrem tersebut dipengaruhi oleh keberadaan sirkulasi siklonik dan penguatan monsun dingin Asia.

BMKG menggabungkan dua bibit siklon tropis, yakni Bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat dan Bibit Siklon Tropis 92P di Teluk Carpentaria.

Keberadaan kedua sistem ini memperkuat daerah konvergensi dalam skala luas di wilayah selatan Indonesia, meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku bagian selatan hingga Papua bagian selatan.

Aktivitas Monsun Asia juga terpantau aktif membawa massa udara lembap dari Laut Cina Selatan yang bergerak ke Indonesia melalui Selat Karimata.

Aliran ini diperkuat oleh seruakan dingin dari dataran tinggi Siberia yang melintasi ekuator hingga Pulau Jawa, ditandai dengan meningkatnya lonjakan indeks dan Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS).

Kondisi tersebut memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan.

Dinamika Suasana Sepekan ke Depan

Sepekan mendatang, pengaruh dinamika atmosfer global, regional, dan lokal diperkirakan masih kuat.

Pada skala global, fenomena El Nino–Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada fase negatif atau La Niña lemah, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) cenderung positif.

Kondisi ini meningkatkan pasokan uap udara yang mendukung pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.

Bibit Siklon Tropis 91S saat ini terpantau berada di Samudra Hindia selatan Sumbawa dengan tekanan udara minimum sekitar 1004 hPa dan kecepatan angin maksimum mencapai 30 knot.

Sistem ini bergerak ke arah selatan–tenggara dan dalam 48 hingga 72 jam ke depan berpotensi berkembang menjadi siklon tropis dengan kategori tinggi.

Dampak dari Bibit Siklon 91S antara lain peningkatan kecepatan angin lebih dari 25 knot di Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga Pulau Sumba, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta perairan utara Pulau Madura hingga Flores.

Sistem ini juga memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi angin di Perairan Selatan Jawa Timur hingga Pulau Timor.

Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 92P terpantau berada di Teluk Carpentaria dengan tekanan udara minimum sekitar 1008 hPa dan kecepatan angin 15 knot.

Bibit ini bergerak ke arah selatan–tenggara dan memiliki potensi rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 hingga 72 jam ke depan.

Meski demikian, sistem ini dapat meningkatkan kecepatan angin lebih dari 25 knot di wilayah Laut Banda, Laut Arafura, Maluku bagian selatan dan tenggara, hingga Papua bagian selatan.

BMKG juga memprakirakan aktivitas Monsun Asia dan CENS akan kembali menguat dalam sepekan ke depan, sehingga massa udara lembap lebih mudah melintasi ekuator menuju wilayah selatan Indonesia.

Kondisi ini meningkatkan risiko cuaca ekstrem, khususnya di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Selain itu, aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) terpantau aktif di Perairan Timur Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara.

Gelombang Rossby Ekuator dan Gelombang Kelvin juga aktif di sejumlah wilayah perairan dan daratan Indonesia, yang secara kombinatif meningkatkan potensi hujan dan aktivitas konvektif.

Peringatan Dini Cuaca

Dengan memperhatikan berbagai faktor tersebut, BMKG menilai potensi cuaca ekstrem masih tinggi dan berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah mitigasi.

Untuk periode 23–25 Januari 2026, hujan ringan hingga lebat diprakirakan mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.

Peningkatan hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Status Siaga hujan lebat hingga sangat lebat terjadi di Lampung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Status Awas hujan sangat lebat hingga ekstrem berpotensi terjadi di Banten dan DKI Jakarta.

Sementara pada periode 26–29 Januari 2026, hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Aceh, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Tengah, dan Papua.

Peringatan Siaga hujan lebat hingga sangat lebat terjadi di Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Papua Pegunungan.

BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang di sejumlah wilayah, termasuk Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk terus memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG, meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang cepat, serta berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan di luar ruang.

Exit mobile version